" Baiklah, tapi agak siangan sedikit, aku harus berbenah warung sebelum kita pergi ". Wanita itu meminta
Wanita hitam manis itu berbohong kepada kekasihnya, ia tidak berbenah. Ia lebih tahu apa yang harus diperbuat untuk pagi hari terbesar kekasihnya itu.
Di dapur ia menanti, sengaja ia meminta waktu lebih siang untuk menunggu ibunya pulang dari pasar dahulu. Ia memesan beberapa potong Oncom mentah untuk digorengnya. Ia tahu kekasihnya sangat menyukai makanan itu.
" Selesai, tinggal diberi lilin, ini akan tampak sempurna ". Jelasnya tersenyum
Ia sejenak menatap lilin itu. " Ia berumur berapa, ya tahun ini ?. 19 saja, instingku berkata demikian ". jelasnya bergegas
Bunyi handfhonenya tak tercekal, itu berbunyi yang menambah debar hatinya. Ia membuka pesan :
" Aku dibelakang rumahmu, temui aku ".
Tanpa detik berlalu ia menghampirinya, deru hatinya berdebar. begitu pula kekasihnya, mereka saling cinta.
" Kita akan kemana ? ".
" Cianten ". Lelaki itu menjawab singkat
" Aku ingin bersamamu kemanapun aku mau, aku tahu itu tidak mudah. Sekarang ikutlah, aku percaya padamu dan kau harus mempercayaiku ". Jelasnya menambahkan
Wanita itu hanya tersenyum, itu inginnya juga. Ia pun pergi bersama roda dua yang mereka tunggangi menuju tempat mereka.
" Dari dulu, aku ingin pergi ketempat ini bersama kekasihku, meski kali kedua kita kesini. Pasti kita dalam keadaan tidak seperti itu ". Jelas wanita itu ketika sampai
" Aku tahu, banyak salah yang aku lakukan terhadapmu, langkahku pun aku tak mengerti, yang kurasa hanyalah engkau. Aku tahu kau menahan, meski kau mencintaiku ". Lelaki itu menerangkan
Detik berhenti sejenak dengan kenyataan itu. mereka ragu, cinta memang mereka rasa, namun bersamalah yang melebihi nilai cinta.
" Sekarang tutuplah matamu dengan kain ini ".
" Ada apa ? ".
" Cepat ". Wanita itu terguyur senyum
Mata lelaki itu pun ditutupnya, dalam keadaan gelap, terdengar wanita itu seperti membuka tasnya, suara-suara plastik pembungkus, dan isak tangis seiring seperti bunyi korek api yang tak kunjung menyala.
" Ada apa ? ". Lelaki itu penasaran
" Tunggu sebentar ! ".
Lama kemudian langkah suara kaki menemui lelaki yang dalam kegelapan itu.
" Buka kainnya ". Wanita itu meminta
" Selamat Ulang Tahun !! ". Ucap wanita itu dengan kaca air mata menyambutnya
Lelaki itu tak berkata apapun saat piring dengan lilin berangka 19 itu dihadapannya. Apalagi disertai goreng Oncom kesayangannya. Lengkap sudah perasaannya bersama wanita itu.
" Kamu menangis ? ". Tanya lelaki itu
" Aku tak tahu apa yang harus ku perbuat lagi, disini anginnya bertiup sekali. Lilin-lilin ini tak mau menyala ". Jelasnya
" Sudahlah, aku senang sekali kau lakukan ini, ini sudah cukup ". Lelaki itu memeluknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar