Selasa, 06 Desember 2011

Rekaman Ulang Tahun



     " Bagaimana ?, aku berangkat. Aku tunggu dibelakang rumahmu ".
" Baiklah, tapi agak siangan sedikit, aku harus berbenah warung sebelum kita pergi ". Wanita itu meminta
Wanita hitam manis itu berbohong kepada kekasihnya, ia tidak berbenah. Ia lebih tahu apa yang harus diperbuat untuk pagi hari terbesar kekasihnya itu.
Di dapur ia menanti, sengaja ia meminta waktu lebih siang untuk menunggu ibunya pulang dari pasar dahulu. Ia memesan beberapa potong Oncom mentah untuk digorengnya. Ia tahu kekasihnya sangat menyukai makanan itu.
" Selesai, tinggal diberi lilin, ini akan tampak sempurna ". Jelasnya tersenyum
Ia sejenak menatap lilin itu. " Ia berumur berapa, ya tahun ini ?. 19 saja, instingku berkata demikian ". jelasnya bergegas
Bunyi handfhonenya tak tercekal, itu berbunyi yang menambah debar hatinya. Ia membuka pesan :

" Aku dibelakang rumahmu, temui aku ".

Tanpa detik berlalu ia menghampirinya, deru hatinya berdebar. begitu pula kekasihnya, mereka saling cinta.
" Kita akan kemana ? ".
" Cianten ". Lelaki itu menjawab singkat
" Aku ingin bersamamu kemanapun aku mau, aku tahu itu tidak mudah. Sekarang ikutlah, aku percaya padamu dan kau harus mempercayaiku ". Jelasnya menambahkan
Wanita itu hanya tersenyum, itu inginnya juga. Ia pun pergi bersama roda dua yang mereka tunggangi menuju tempat mereka.
" Dari dulu, aku ingin pergi ketempat ini bersama kekasihku, meski kali kedua kita kesini. Pasti kita dalam keadaan tidak seperti itu ". Jelas wanita itu ketika sampai
" Aku tahu, banyak salah yang aku lakukan terhadapmu, langkahku pun aku tak mengerti, yang kurasa hanyalah engkau. Aku tahu kau menahan, meski kau mencintaiku ". Lelaki itu menerangkan
Detik berhenti sejenak dengan kenyataan itu. mereka ragu, cinta memang mereka rasa, namun bersamalah yang melebihi nilai cinta.
" Sekarang tutuplah matamu dengan kain ini ".
" Ada apa ? ".
" Cepat ". Wanita itu terguyur senyum
Mata lelaki itu pun ditutupnya, dalam keadaan gelap, terdengar wanita itu seperti membuka tasnya, suara-suara plastik pembungkus, dan isak tangis seiring seperti bunyi korek api yang tak kunjung menyala.
" Ada apa ? ". Lelaki itu penasaran
" Tunggu sebentar ! ".
Lama kemudian langkah suara kaki menemui lelaki yang dalam kegelapan itu.
" Buka kainnya ". Wanita itu meminta

" Selamat Ulang Tahun !! ". Ucap wanita itu dengan kaca air mata menyambutnya

Lelaki itu tak berkata apapun saat piring dengan lilin berangka 19 itu dihadapannya. Apalagi disertai goreng Oncom kesayangannya. Lengkap sudah perasaannya bersama wanita itu.
" Kamu menangis ? ". Tanya lelaki itu
" Aku tak tahu apa yang harus ku perbuat lagi, disini anginnya bertiup sekali. Lilin-lilin ini tak mau menyala ". Jelasnya
" Sudahlah, aku senang sekali kau lakukan ini, ini sudah cukup ". Lelaki itu memeluknya.

Senin, 05 Desember 2011

Menembus Biru Langit

 
Menembus Biru Langit
Oleh : Dede Ubaidillah L.Z

Sebuah nevelet piktif penerjemah bahasa legenda
dan pembudayaan



Dengan lantunan lafadz basamalahnya, Ia mulai  mengayunkan langkah  pertamanya menuturi jalan berlantai di sela-sela rumah tetangganya yang masih terlihat baru itu. Dengan seizin suaminya dari rumah, Ia terus menundukan kepala menuju sebuah warung yang tidak jauh dari rumahnya.
Tegur sapa dan senyum selalu menyertainya ketika berpapasan dengan beberapa tetangga terdekatnya. Mereka sangat membanggakannya sekali. Ialah Bu Astuti, sosok wanita paruh baya yang setiap matahari mulai menggelap selalu mengajari anak mereka mengaji.
Ibu Astuti adalah seorang Ustadzah di desa Situ Damai kecamatan Karang Indah Jawa Barat dimana tempatnya Ia bermukim, karena selain guru mengaji anak-anak mereka, Ia juga yang memimpin pengajian ibu-ibu saat jum'at pagi tiba. Kegiatan itu rutin Ia geluti tanpa imbalan duniawi dari mereka yang menimba ilmu kepadanya. Karena yang Ia harapkan bukan itu, Ia hanya ingin memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya dan hanya mengharapkan kebahagiaan ukhrawi kelak dari Allah SWT semata.
" Saya kagum sekali dengannya, hingga saya tidak bisa berkata lain selain menatap matanya dan membalas senyumnya ". Jelas seorang tetangga yang berbisik setelah berpapasan dengannya.
Pesona keimanan selalu tercacar dirautnya yang mulai mengkeriput itu, seakan bersinar dan memanjakan hati bagi siapa saja mereka yang melihatnya. Itulah Bu Astuti yang berhati mulia dan disegani oleh para tetangga dan masyarakatnya.
Bu Astuti juga terkenal dengan sosok ketasawufannya. Sosok budinya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, dengan beralaskan kesabaran dan dasar keimanan yang tulus Ia tempuh dengan semangat hidup untuk mendapatkan ridha Allah.
" Saya takut sekali memakai pakaian baru ini, Bu. Memang ini pakaian yang paling sempurna yang pernah saya pegang. Namun maaf, Bu. Terimakasih sebelumya, bukan karena apa. Saya lebih takut jika memakai baju baru ini sesekapan hati saya akan merasa sombong meski sekecil apapun. Jadi lebih baik jika ibu ingin bershadaqoh, ibu do'akan saja untuk perlindungannya kepada keluarga saya ".
Selalu Ia katakan dalam sela pengajiannya, segala sesuatu itu berawal dari hati akan mencermin kepada perilaku, baik penyakit maupun kebahagiaan. Dengan seperti itu, sekecil apapun penyakit hati yang kita rasakan akan membawa dampak besar  bagi setiap apa yang kita lakukan. Dan sekecil apa pun penyakit hati itu adalah dari apa yang kita gunakan dan kita makan. Dengan prinsip itu Ia lebih baik memilih hidup  dalam kesederhanaan dari pada penuh kecukupan.
Pagi itu pun Ia tiba di warung tetangganya yang hanya terhalang beberapa rumah saja dari kediamannya. Dengan lekas Ia membeli apa yang dibutuhkan keluarganya dan pulang setelahnya. Sebelumnya Ia tidak pernah sedikit pun keluar dari rumahnya jika hanya keperluan yang tiada Ia anggap penting dan tanpa seizin suaminya. Karena biasanya Ia menyuruh untuk hal ini kepada anaknya yang paling kecil.
Ialah Budi, yang setiap pagi Ia berankat sekolah, Budi adalah sosok anak yang sangat penurut dan patuh atas apa yang diperintahkan dan menjadi kewajibannya. Ia terlahir dari orang tua yang sangat berbudi dan beriman, hingga Bu Astuti dan suaminya berharap Ia akan lebih berbudi, baik baginya maupun masyarakatnya.
" Ibu lelah sekali Abduh, mungkin karena ibu sudah mulai renta. Hanya berjalan beberapa puluh meter saja ibu kecapekan seperti ini. Abduh, usiamu kini mulai memapan, sudah saatnya kamu harus mulai berumah tangga, ibu akan senang sekali jika ibu bisa mendengar tangisan bayi di rumah ini ". Jelasnya bercerita ketika Ia sesampainya kembali di rumah.
Keluarga Bu Astuti dikaruniai dua orang anak laki-laki. Abduh dan Budi, tidak heran, Bu Astuti selalu merasa sangat kesepian sekali dengan sentuhan anak perempuan untuk membantunya mengurus rumah.
Abduh hanya tersenyum mendengar Bu Astuti menyapanya dengan perkataan yang mengherankan tersendiri baginya itu. Karena Ia tahu, ibunya hanya sendirian di rumah jika saat Ia berangkat kuliah siang nanti, mungkin Ia akan kesepian lagi, karena ayahnya juga selalu berada dikebun saat mulai siang hingga beranjak sore.
Keluarga Bu Astuti adalah keluarga yang sangat terpandang dan disegani masyarakatnya. Bagaimana tidak, selain profesinya sebagai guru ngaji, suaminya juga sebagai Al-Ahlu wal Hikmah di desa Situ Damai tempat mereka berdiam pula. Ialah Pak Turo, Ia sosok panutan terkemuka bagi kalangan tokoh agama di desanya. Ia juga lulusan pesantren Al-Baidowi di Klaten Jawa timur. Jadi tidak heran, Ia berperan penting dalam setiap pembahasan keilmuan di daerahnya yang Ia adakan setiap malam minggu.
Namun seperti itu, Pak Turo tidak lupa dengan kesederhanannya. Ia tidak hanya ingin berleha menanti rezeki Allah tiba sehingga Ia selalu pergi ke Kebun sebrangnya untuk menambah penghasilan keluarga mereka.
Kebun itu adalah kebun kesayangannya, hanya berluaskan 100 x 60 meter persegi itu cukup untuk menambah hiasan piring nasi keluarga mereka dengan sealakadarnya makanan dari alam. Dan sisa dari lahan itu Ia pergunakan untuk bercocok tanam kayu Jenjing karena dalam jangka waktu yang tidak cukup lama kayu itu bisa Ia jual untuk keperluan yang lain.
Ikhtiar mereka selalu di tekuni dengan rasa qana'ah setelahnya, meski selalu dalam ketidak cukupan materi, mereka percaya Allah dan rizkinya selalu menyertai mereka. Anak pertama mereka sedang kuliah, beberapa bulan lalu Ia lulus Madrasah Aliyah di daerah Kabupaten Bogor, selama itu Abduh di pesantrenkan disana, karena jika Abduh pulang pergi sekolah-rumah akan memakan dana yang tidak sedikit setiap harinya.
Pagi Jum'at pun tiba, juga tiba saatnya para ibu-ibu warga desa Situ Berkah berbondong-bondong mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh Bu Astuti. Tempatnya di Mushola disamping rumahnya, karena tidak mungkin jika pengajian itu ditempatkan dirumahnya. Dalam pengajian itu penceramah yang selalu ditampilkan adalah suaminya. Pengajian itu masih bersifat madani dengan alakadar pendanaan pelaksanaannya dari swadaya masyarakat, karena pengajian itu hanya didirikan oleh mereka yang berminat saja.
Pagi itu juga Pak Turo berhalangan hadir,  Ia tiada di tempat, sejak hari kemarin Ia pergi ke desa Karang Indah menjenguk Pak Ustadz Amung sahabatnya yang tengah sakit.
" Sakit itu tanda peduli Allah terhadap kehidupan kita, Bu. Semakin tabah kita dengan penyakit itu, semakin besar pahala yang Allah berikan kepada kita sebagai ujian sejauh mana kita menyikapinya ". Jelas Bu Astuti ketika mengabarkan suaminya berhalangan hadir karena menjenguk dan sekaligus menjadi pembahasan hangat tentang penyakit ketika salah seorang bertanya tentang itu.
" Bagaimana dengan orang yang sakit namun sakitnya itu karena ada sesuatu yang mengganggu atau dibuat-buat atau juga akibat gangguan ruh halus. Apakah benar itu masih bentuk cobaan Allah ?. Apakah benar juga dengan nyatanya bentuk gangguan ruh halus terhadap kita ?. Seperti Jin misalnya, saya hanya sering mendengar cerita tentang itu, namun keyakinan saya belum mencapai kesempurnaan jika tanpa bukti atau kisah yang jelas tentangnya ". Jelas seorang ibu itu bertanya lagi.
Bu Astuti tersenyum, perlahan Ia meletakan mike-nya di antara kedua lututnya. Perlahan Ia mulai menjawab dan bercerita untuk meyakinkan ibu tersebut.
Ternyata benar, sejatinya semua bentuk penyakit itu datangnya dari Allah, meski melewati pelantara apapun semua itu adalah bentuk cobaan yang harus disabari dengan penuh keikhlasan. Allah tidak akan menguji siapapun jika ujian tersebut diluar batas kemampuan orang itu untuk menyadarinya. Dalam setiap detik kesusahan yang dihadapi kita selalu mempunyai waktu untuk memilih dan merubahnya. Itu tidak mungkin tidak, karena Allah maha tahu sebatas apa yang kita miliki dan seperti apa cobaan yang akan diberikannya.
Dunia gaib selalu beriringan dengan dunia kita. Jin misalnya, Ialah makhluk selain Syaitan yang memiliki potensi hampir sama dengan manusia, karena syaitan masih berkakek buyut dari Iblis dan Jin. Ia juga memiliki kekuasaan dan kepeminpinan, beribadah juga berkeluarga. Hanya Jin kafir yang ingkar dan mampu mengusik kehidupan manusia. Tidak hanya itu, Jin yang beriman pun mampu dan lebih dapat menunjukan keberadaannya. Jin muslim lebih kuat dari Jin yang non muslim, karena dengan keimanannya, Ia dapat lebih menguasai apa yang difikirkan manusia.
Setiap manusia memiliki pendamping yang setia selain malaikat Rakib dan Atib di kehidupannya. Setiap manusia yang terlahir, Jin itu juga ikut terlahir bersamanya. Dan dikala Manusia itu meninggal namun Jin itu tidak meninggal karena sebangsa makhluk halus tidak meninggal sebelum hari kiamat tiba. Jika sering kita mendengar  ' Fitnah Kubur ' itu adalah Jin yang yang selalu bersama manusia itu sejak lahir.
Sangat jelas sekali jika kita mampu merasakan keberadaannya, hanya mereka makhluk halus dan hanya dengan Jirim manusia baru dapat mengetahuinya.
Pengajian itu pun berganti topik, beberapa ibu-ibu yang dari tadi terlihat leha dibelakang dengan pengajian rutin itu mulai mengedepankan duduknya untuk lebih jelas lagi mendengar Bu Astuti bercerita. Pengajian pun tidak terdengar menderu jika didengar dari kejauhan, karena Bu Astuti tidak menggunakan alat pengeras suaranya. Mereka menghidmat, suasana pun sangat terpimpin dengan keilmuan yang Bu Astuti miliki. Tidak heran, dahulu ayah dan ibunya juga seorang mubaligh dan tokoh agama terkemuka di desanya, dengan ketekunan Bu Astuti saat di pesantren dahulu kini Ia mampu mewarisi apa yang kedua orang tuanya miliki dan perjuangkan di jalan Allah.
" Bagaimanakah kedekatan dunia Jin dan kehidupan kita di dunia ini ?. Adakah seseorang yang pernah melihat aktivitas mereka ? ". Tanya seorang ibu itu kembali.
" Tentu ". Jelasnya kembali bercerita.
Dahulu saat musim liburan sekolah tiba, para muda mudi dan pelajar berhilir untuk mengunjugi air terjun desa kita itu. Mereka mengisi liburannya dengan aktivitas- aktivitas kelembagaan sekolah disamping berwisata, bahkan mereka mendirikan tenda-tenda dan bermalam untuk beberapa hari disana.
Mungkin karena apa, mereka hanya sebagai pengunjung dan tamu di daerah itu. Mereka tidak tahu percis seperti dan bagaimananya keadaan alam sana. Pernah sesuatu terjadi seorang muda jatuh pinsan saat itu. Ia tidak sadarkan diri selama beberapa waktu. Mereka pun memulangkannya dengan bantuan warga pribumi ke rumahnya, dan tidak lama setelah mereka sampai, pemuda itu pun meninggal.
" Kenapa ? ", mungkin keluarganya berkata demikian. Dengan perasaan ingin tahu mereka akhirnya keluarga pemuda itu menemui orang pintar untuk dapat mengetahui sebab musababnya anak mereka meninggal dengan tidak sewajarnya itu.
Diriwayatkan, pemuda itu adalah seorang anak yang terlihat seperti freeman. Ia sangat luar biasa sekali kenakalannya di usianya yang baru beranjak dewasa itu, karena menurut sebagian temannya berkata demikian. Entah bagaimana mulanya hal buruk pun menimpanya karena Ia tidak  bersikap sopan.
Setelah diketahui sebabnya, tenyata ruh pemuda itu belum meninggal dan tidak kembali ke alam kubur. Meski jasadnya telah dikebumikan di dunia ini, namun ruhnya terhijab di dunia Jin penunggu air terjun tersebut dan tidak bisa kembali. Itulah yang siring kita dengar dengan sebutan " Hidup di biru langit ". Karena suatu saat Ia akan mengalami kematian dua kali dan kehidupan tiga kali, yakni Ia pernah hidup di alam dunia, alam Jin dan alam akhirat nanti setelah Ia benar-benar meninggal.
Pengajian pagi itupun berakhir dengan kebanggaan hati mereka atas penjelasan Bu Astuti, mereka nampak berbondong sekali ingin mendapatkan santun dan salam Bu Astuti ketika berpamit. Siang ini Abduh juga berangkat kuliah, mungkin Ia telah berangkat karena pengajian itu berakhir pukul sebelas siang. Bu Astuti selalu sendiri jika dalam tenggang seperti ini, namun biasanya Budi pulang sekolah pukul dua belas tepat. Ia hanya bisa menunggu kedatangannya dengan mempersiapkan makanan dan sambal goreng kesukaan Budi.
" Assalamu Alaikum, Ibu. Bapak belum pulang juga ? ". Ucap Budi dengan memburu salam ibunya.
" Waalaikum Salam, Mbud. Mungkin bapak pulangnya agak sorean, Ia masih di rumahnya Ustadz Amung. Oya, sambil nunggu bapak pulang makan dan shalat dulu sana, Ibu sudah masakan sambal kesukaan Mbud ". Ucap Bu Astuti ramah.
" Bu, Tadi Pak Komar menawarkan bibit Jenjing untuk bapak. Katanya, ia berani menjualnya dengan harga yang sangat murah. Barangkali bapak mau, Mbud bisa sampaikan kembali sama Pak Komar ". Jelas Budi dalam makan siangnya itu.
" Nanti Ibu kasih tahu bapak dulu, bapak juga katanya sedang mencari bibit Jenjing itu untuk mengisi sisa lahan yang masih kosong ". Jawab Bu Astuti.
Seusai Budi shalat Pak Turo pun tiba di daun pintu rumah mereka. Salam pun terdengar dan lekas Bu Astuti menyampaikan amanat Pak Komar tersebut.
" Iya, Bu. Bapak juga sedang mencari bibit jenjing. Namun harganya bapak tidak berani. Jika bibit Pak Komar lebih murah lekaskan Budi untuk membeli bibit Jenjing itu ". Jelas Pak Turo setuju.





Jeput cangkul Pak Turo menyentuh dasar permukaan bumi, ikhtiarnya untuk terus bertani Jenjing tidak kenal lelah meski Ia baru sampai dari bepergiannya itu. Beberapa pohon pun sudah mulai selesai tertanam dengan bantuan anaknya Budi. Mereka terlihat dekat sekali. Hingga sore tiba kebun mereka pun selesai ditanami. Lahan 100x60 meter persegi itu nampak tertutupi pohon Jenjing yang masih kecil.
" Apakah Mbud berharap Jenjing kita ini cepat besar ? ". Tanya Pak Turo disela istirahatnya.
" Tidak.. ".
" Tidak inginkah hasil kebun ini cepat terjual ? ". Tanya Pak Turo lagi.
" Tidak.. ".
" Kenapa ? ". Pak Turo sungguh bertanya.
" Mbud rasa kita masih cukup untuk bisa makan, bagi Mbud itu sudah cukup ". Jelas Budi singkat.
Sungguh salah dengan dugaan Pak Turo, jawaban itu keluar dari anaknya yang masih kecil. Ia tidak terpikirkan sebelumnya jika Budi akan menjawab demikian dengan polosnya. Pak Turo tersenyum bangga.
" Apakah Mbud berharap sesuatu dari kebun kita ini ? ". Tanya Pak Turo kembali.
" Iya.. ".
" Apakah itu ? ". Pak Turo benar-benar bertanya lagi.
" Mbud ingin mengambil air wudhu tanpa harus ke air sungai desa, Pak. Jadi akan lebih cepat untuk melakukan shalat ". Jelas Budi singkat.
Jawaban kedua Budi itu keluar dari mulutya dengan tidak pernah disangka dan ditebak akan seperti itu sebelumnya. Dalam umurnya yang masih kecil sekali, itu adalah jawaban yang luar biasa sekali bagi Pak Turo. Memang benar, jika mereka mempunyai kamar mandi di rumahnya, Budi tidak akan berkata seperti itu.
" Kelak beberapa tahun lagi pohon ini akan berguna bagi kita, Mbud ". Jelas Pak Turo disela bergegasnya pulang.
Keluarga adalah segalanya bagi Pak Turo. Dengan bermodalkan kebunya itu Ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Memang selalu dalam kekurangan, namun dengan keikhlasan dan usaha mereka mampu mewujudkan apa yang mereka citakan.









***

Beberapa kurun sudah mereka dalam keadaan seperti itu. Kini pucuk-pucuk pohon Jenjing Pak Turo kian terlihat mencakar langit. Mereka juga telah berhasil menyelesaikan S1 Abduh beberapa hari lalu. Kini Budi juga tidak lagi duduk di kelas empat, sekarang Ia juga naik kekelas enam beberapa hari yang lalu pula. Keluarganya sangat berbagga sekali, karena dengan ketidak punyaan keluarga mereka, namun mampu menyelesaikan kuliah dan menyekolahkan anaknya serta menyaingi anak-anak mereka yang lebih terlihat mampu dari segi materi.
Dalam jangka waktu itu tiga tahun sudah berlalu, kedua orang tua Abduh mulai merenta. Hanya mengharapkan dari tamu   dan kebun ayahnya itu mereka mampu bertahan hidup. Diawal liburan Abduh yang untuk selamanya itu Ia mulai menguatkan niat hatinya untuk bekerja membantu nafkah keluarganya. S2 Abduh sudah tidak mungkin lagi Ia kejar, karena dengan keadaan seperti itu mustahil keluarganya mampu untuk membiayainya.
Abduh mulai membawa Izajah S1nya mencari beberapa perusahaan terdekat yang berada di daerahnya. Dengan bermodalkan uang sisa jajan yang pernah Ia tabung saat kuliah dulu kini Ia bergegas dengan uangnya yang tidak seberapa itu. Hanya niat dan citanyalah Ia berhilir hulu mencari perusahaan yang membutuhkan pegawai tambahan. Namun selalu Ia mendapatkan jawaban " Maaf, Pak. Di perusahaan ini penuh sekali pegawainya. Coba bapak mencari kembali di perusahaan-perusahaan yang lain ". Abduh sedikit pun tidak mengeluh meski beberapa perusahaan selalu mengatakan yang sama.
Berganti hari, Ia kembali bergegas mencari pekerjaan di sebuah organisasi kesekolahan. Ia melamar menjadi seorang guru  Sekolah Dasar di tetangga desanya. Barangkali titel S1nya itu lebih cocok untuk Ia menjadi seorang pengajar. Namun perkataan tersebut selalu terulang, sekolahan itu pun  penuh akan tenaga pendidiknya. Hingga Ia kesekolahan yang lain yang lebih jauh tempatnya, namun jawaban itupun selalu tetap sama menaggapi ikhtiarnya itu.
Hari berikutnya tetap Ia tidak menyerah, kali ini Ia datang kesebuah rumah makan, memang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, dan mungkin juga penghasilannya tidak akan seberapa. Namun, Baginya seorang pemula yang akan terjun kedunia kerja itu adalah hal yang wajar dan pantas.
" Biarlah, yang penting aku bisa bekerja dan membahagiakan keluargaku ". Semangat Abduh dalam hati ketika didepan rumah makan Solo itu.
" Saya berniat untuk bekerja di tempat ini, Pak. Ini Izajah dan surat lamaran pekerjaan saya. Mudah-mudahan di rumah makan ini sedang membutuhkan pegawai tambahan ". Jelas Abduh kepada pemilik RM Solo yang sederhana itu.
" Sebenarnya bapak tidak perlu membawa Izajah dan surat lamaran jika berniat bekerja di tempat ini. Hanya berani bekerja keras itu adalah modal utama bagi kami. Namun maaf, Pak. Terus terang sudah beberapa orang yang juga datang kesini untuk mencari pekerjaan. Namun bagaimana ya , Pak..semuanya juga tidak ada yang saya terima. Pegawai disini sudah cukup dan maksimal sekali untuk rumah makan yang sederhana seperti ini ". Jelas pemilik RM itu ramah.
Keningnya pun mulai mengkerut, dasi yang selalu Ia pakai rapi mulai Ia longgarkan dari lehernya. Ia keluar dari rumah makan Solo itu dengan beban yang tidak terkira sulitnya, Ia kembali di tolak dalam lamarannya. Ia ingin menangis, namun untuk apa. Ia tidak bisa apa-apa dengan titel S1nya itu.
Tidak lama Ia memutuskan untuk di rumah dulu saja, mungkin ikhtiar sudah Ia tekuni namun hasil yang Ia harapkan belum Ia dapatkan. Surat-surat lamaran pun Ia edarkan kebeberapa perusahaan yang pernah Ia temui. Kini Ia hanya bisa bertawakal penuh dan terus menunggu jawaban dari surat-surat lamarannya itu. Dalam penungguannya itu Abduh hanya bisa membantu ayahnya dikebun. Alakadarnya menata dan mengiangi kebun sayur kecil-kecilan yang pernah ditanam Pak Turo sebelumnya. Lama pun sudah Abduh menunggu jawaban atas surat-surat lamarannya itu. Namun tiada yang menerka dan membalasnya dengan kabar apa yang telah Ia titipkan kebeberapa perusahaan tersebut.
Hingga tiba musim liburan berakhir. Abduh belum juga mendapatkan apa yang pernah Ia targetkan saat liburan baru dimulai dahulu. Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, meski dengan kemampuan yang lebih dari cukup jika tanpa peluang atau wadah untuk menerapkannya adalah hal yang mustahil untuk dapat berkembang dan berguna.
Tanggal pendidikan pun baru kemarin berjalan efektif, pagi sekali Budi sudah berangkat sekolah bersama teman-temannya. Dalam waktu itu ternyata tidak bagi sebagian pegawai dari kota, mereka justru berlibur dan kembali ke kampung halaman mereka. Ketiga teman Abduh pun turut pulang kampung bersama karena mereka semua bekerja dalam satu perusahaan yang sama pula. Siang harinya mereka menemui Abduh di rumahnya. Mereka nampak meyakinkan sekali, pakaian serta bahasanya sedikit terlihat berubah dari sebelumnya yang masih tinggal di desa beberapa tahun lalu.
Andi, Rais dan Salim, mereka adalah sahabat Abduh ketika masih di Madrasah Aliyah yang mana mereka masih sekampung halaman dengannya. Namun ketika mereka lepas jenjang Pendidikan Atas mereka bergalih ke kota besar Jakarta untuk mengadu nasib mereka. Tradisi pemuda desa Situ Damai adalah merantau ke kota-kota besar, yang sudah turun temurun dan menjadi kebiasaan masyarakat pemuda Situ Damai, sehingga jarang sekali terlihat soerang pemuda di kampung mereka sengaja mencari kerja di desanya sendiri.
Namun hal itu lain bagi Abduh, pemaparan pikirannya sangat jauh kedepan, meski dengan seadanya pun Ia mampu merampungkan S1nya berkat dukungan penuh dari keluarganya pula.
" Bapak Abdulah Abduh. S.H ". Ucap Rais yang sengaja menyaluti titelnya itu.
" Itu lebih bagus dari pada kita ". Ucap Salim dengan tawa membela Abduh.
Semuanya nampak hangat sekali meski sudah tiga tahun tidak berjumpa sama sekali. Itulah persahabatan, tidak berujung dan membahagiakan. Dalam sela dekap mereka Abduh memusatkan pikirannya sejenak, Ia teringat ikhtiarnya. Menunggu adalah hal yang samar, dan samar itu adalah sifat yang meragukan dan dekat sekali dengan ketidak pastian dan kesia-siaan. Ia mengutarakan maksudnya untuk turut ke kota besar Jakarta bersama para sahabatnya itu nanti.
" Saya ingin bekerja, mungkin itu adalah hal yang wajar dan saya bersungguh. Jika masih mempunyai peluang kepegawaian disana, ajak saya bergabung bersama kalian ". Jelas Abduh meluapkan tanya.
" Itu bukan hal yang pasti, Duh. Di Jakarta memang banyak sekali lapangan pekerjaan, namun tidak sedikit juga orang yang selalu ditolak lamarannya. Nanti saya kasih kabar lagi jika saya telah berada disana kembali, saya juga harus menanyakan kepada Direktur perusahaan untuk hal ini, mungkin dengan S.Hmu itu lebih bisa mereka untuk menerima mu, Duh  ". Ucap Andi memaparkan harapan.
" Itu ide yang sangat bagus sekali, Duh. Coba kita bayangkan kembali, empat kutu desa kembali bersatu dan menjajah kota besar Jakarta ! ". Ungkap Salim dengan nada menggerutu.
" Semoga rencana ini akan seperti yang kita harapkan ". Jelas Abduh menambahkan.
Senyum Bu Astuti pun melebar saat Ia hendak mengetahui siapa yang singgah dan bertamu di rumahnya itu bersama Abduh. Tidak lama Ia kembali bersama tiga gelas air putih. Hiruk menebar sayap, percakapan mereka pun terhenti, mereka semua memburu Bu Astuti untuk mendapatkan salam dan usapan di kepala mereka. Dahulu mereka biasa selalu berada di rumahnya, selain teman dekat Abduh, keberadaan mereka juga sangat membantu kesepian Bu Astuti dalam hening keluarga yang beranak dua itu. Jadi tidak heran, mereka seperti sebagai seorang anak dan ibu sendiri.
" Ibu, ya Allah.. Rais kangen sama ibu ".
" Andi juga..".
" Ibu, Salim ingin salim ".
Mereka semua kembali, tidak ada yang berubah dengan kehangatan kekeluargaan mereka. Canda dan manja mereka selalu dapatkan dalam kebahagiaan itu.
" Ibu, Kami pulang hanya beberapa hari saja, karena hari senin pagi kami mulai bekerja kembali ". Jelas Andi memulai.
" Kenapa tidak tinggal lebih lama lagi, Nak. Kalian bisa bantu-bantu ibu seperti dulu lagi menjadi seksi logistik pengajian ibu-ibu Jum'at nanti ". Ucap Bu Astuti membalikan canda.
" Ingat pesan Ibu, Jangan lupakan shalat, karena dengan shalat semua jalan akan terbuka. Kalian tidak akan susah dan terjerumus kejalan yang salah. Sesibuk apapun kalian nanti luangkanlah waktu hanya lima menit saja setiap waktu shalat tiba ". Ucap Bu Astuti menambahkan.
--
" Ibu, Abduh izin pergi, teman-teman  Abduh mengajak untuk Abduh turut ikut ke air terjun desa. Maaf Bu, Abduh kasih tahu ibu mendadak, Abduh ingin sekali pergi bersama mereka ". Pinta Abduh pagi itu.
" Bukan kenapa Abduh, ibu hanya khawatir, banyak sekali cerita bagaimana orang yang pergi kesana ". Jelas bu Astuti menahan.
" Insyaallah Bu, Abduh akan baik-baik saja , Abduh akan selalu ingat nasihat  ibu ". Ucap Abduh menderu.
Abduh pun turut bersama teman-temannya berangkat ke air terjun desa setelah Ia mendapatkan izin Ibunya. Tidak lama di perjalanan, tebing dan hutan pun mulai terlihat ketika mereka hendak sampai ke tempat tujuan. Semuannya nampak tidak terawat, namun tetap banyak  pengunjung yang datang ke tempat itu. Suasana alam dan air terjun yang masih terlestari, hal itulah yang membuat air terjun itu ramai dikunjungi.
Hingga mereka sampai, tiba-tiba pagi pun menggelap. Cuaca sangat tidak bersahabat sekali, Hujan turun dengan tidak diduganya. Sebagian mereka yang tengah bermain, sekejap berlari mencari tempat teduh dengan lekas. Mereka berhamburan, seakan tiada yang mereka pikirkan selain menghindar dari hujan.
--
" Bapak, pagi ini hujan semakin deras, Ibu jadi khawatir sama Abduh, mungkinkah disana juga sama ? ". Ucap Bu Astuti menguakan firasatnya.
" Abduh sudah dewasa Bu, Ia pasti baik-baik saja. Memangnya Abduh pergi kemana, Bu ? ". Tanya Pak Turo membalik.
"  Abduh ke air terjun desa, Pak ". Jelas Bu Astuti tegas.
Pak Turo mendiam, Ia teringat sesuatu, Ia pun membalik hatinya menjawab kekhawatiran Bu Astuti. Ia teringat seperti apa keadaan air terjun desa itu, meski sering sekali ramai oleh pengunjung tetapi Ia menghulukan seperti apa mereka disana.
Selalu Ia ingat, sewara' apapun manusia dalam kehidupan pergaulannya, jika ia menemukan kesalahan, tidak sedikit manusia yang terjebak dengan ketidak sopanan terhadap waktu dan alam, akibatnya mereka tersentak dengan kesalahannya sendiri.
--
Air pun mencokelat dan menutupi bebatuan yang menghampar di pinggiran terjunan air, laksana bah yang baru saja dimulai. Sebagian mereka yang tetap bermain air mulai terkejut. Mereka pun turut berhamburan menepi daratan seperti yang lain.  
Terlihat mereka yang menepi, mereka membingung. Mereka pun berteriak minta tolong. Mendengar suara itu, Abduh dan teman-temannya pun turut mendekat.
Ternyata seorang anak gadis yang tertinggal ditengah derasnya air, Ia hanya bisa berdiri disebagian permukaan batu besar yang belum terjamak luapan air, ia terjebak. Melihat kejadian itu suasana menegang, mereka tidak berdaya dengan hujan yang terus menderas dan air yang semakin membesar.
" Abduh bagaimana ? ". Terdengar tanya singkat dari salah seorang temannya.
Melihat tidak ada yang bisa diharapkan, Abduh pun duduk sejenak, hingga air pun menutup batu besar yang gadis itu pijak. Perlahan air pun mulai menyentuh telapak kaki gadis itu, ia semakin ketakutan. Mengetahui tidak ada yang bisa lagi gadis itu lakukan, ia pun meminta tolong.
" Buka Sweter kalian, cepat. Andi, Rais, pinjam sweter mereka yang ada diatas, setelah terkumpul ikat kedua lengan sweter tersebut satu dengan yang lainnya, hingga membentuk sebuah tali panjang dan kita gunakan sebagai tali untuk kesana. Dan Salim, ikut denganku kebawah ". Intruksi Abduh tegas
Mereka pun mengerti apa yang direncanakan Abduh. Tanpa membuang waktu, mereka pun melakukan tugasnya. Setelah sweter terkumpul, Andi dan Rais pun menyambungkannya menjadi sebuah tali dan mereka lekas menuturi Abduh yang tengah menunggu di tepi sungai.
Abduh bergerak kearah hulu, setelah mendapatkan sweternya Ia mengucapkan basmalahnya dan mengikatkan satu ujung tali sweter itu di pinggangnya.
" Andi, Rais, Salim, aku percaya kalian. Tarik terus tali sweter ini dan aku akan mengikuti air kearah gadis itu ". Jelas Abduh.
Mereka yang ada diatas hanya bisa melihati Abduh lakukan itu. Sekejap, Abduh pun menghilang dari permukaan. Ketiga teman Abduh pun telah memegang sweter yang telah disambung itu erat. Tidak lama Abduh pun terlihat kembali dan Ia menepi dengan uluran tangan gadis yang menyambutnya. Kini Mereka berdua yang diatas batu besar yang telah tengah hilang tertutup air itu.
" Saat hitungan ketiga, Abduh dan gadis ini akan meloncat dan berenang ke tepi. Terus pegang erat talinya ! ". Teriak Abduh kepada temannya yang berada di hulu.
" Gadis, berjanzilah, kau akan terus mengeratkan genggamanmu kepada tali ini hingga kau ke tepi bersamaku ". Ucap Abduh kepada gadis itu.
" Aku percaya padamu ". Ucap gadis itu  menangis.
Mereka pun saling berpegangan dengan aba-aba dari Abduh. Gadis itu benar percaya kepada Abduh seperti ia telah memeluk sebelumnya. Setelah hitungan ketiga, Abduh bersama gadis itu pun meloncat sekuat tenaga dan terus berenang dengan harapan sampai ke tepi dengan bantuan sweter yang disambung-sambung itu.
" Aku tidak kuat lagi, lepaskanlah peganganmu, ketiga temanmu juga tidakakan lama lagi bertahan dengan beban kita berdua ". Ucap gadis itu yang akan menyerah disela derasnya air.
" Aku percaya mereka, dan aku juga percaya padamu.  Kita tidak akan melepaskan pegangan ini hingga ketepi. Bertahanlah, kau tidak selayaknya mati disini, begitu juga kita semua, berusahalah untuk itu. Kau tidak akan melepaskan peganganmu, aku percaya itu  ". Ucap Abduh menyemangati.
Gadis itu tegas menutup kedua matanya dengan berpegang erat dalam pelukan Abduh. Mereka terus berusaha untuk ketepi, mereka berguling dan memijak beberapa batuan melawan arus. Ketiga teman Abduh yang terus mempertahankan tali sweter itu, karena kini mereka menanggung dua nyawa sekaligus  dalam pegangan mereka.
Setelah beberapa saat, Mereka berhasil, Abduh dapat menyelamatkan gadis itu hingga ke tepi. Gadis itu pinsan. Mungkin ia sangat terguncang sekali dengan peristiwa itu.
Tidak lama Abduh pun pergi dari  lokasi air terjun sebelum gadis itu terbangun. Selebihnya Abduh dengan teman-temannya menyerahkan gadis itu kepada beberapa sahabatnya.
--
" Budi, antar bapak ke air terjun desa, tidak apa hujan terus turun, ibumu khawatir dengan Abduh disana, dan bapak juga. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja dan sekarang kita menjemput mereka pulang ". Pinta Pak Turo disela kekhawatiran Bu Astuti.
Tidak lama pun mereka berdua berangkat dengan maksud menjemput Abduh pulang. Tidak lama mereka berjalan, mereka pun berpapasan. Abduh terlebih pulang dalam keadaan basah bersama teman-temannya.
" Abduh, kenapa kaki mu berdarah ?, Abduh baik-baik saja ? ". Tanya Bu Astuti ketika mereka sesampainya di rumah.
" Abduh baik, Bu ". Jelas Abduh singkat.
Kedua mata Abduh memerah, dengan kedinginan hatinya terhadap kejadian tadi, ia terus mengalihkan apa yang dipikirkan Bu Astuti dan ayahnya sembari mengeringkan kepalanya dengan handuk yang ia ambil dari Budi.
--
" Assalamu Alaikum ! ". Ucap kedua suara dari luar rumah serentak.
" Ini rumah Pak Turo, Nak. Ayah juga dulu pernah mengobatimu ketika sakit dulu disini ". Jelas seorang ayah kepada anaknya.
" Waalaikum Salam !, Pak Andi ?. Bapak mampir ?, silakan masuk, Pak ? ". Ucap Pak Turo yang memburu dan membuka pintu.
Sebelum semua ini dimulai, Pak Turo dan Pak Andi adalah seorang sahabat. Hanya Pak Andi lebih mendalami bidang perdagangannya setelah dunia pesantren mereka berakhir.
Sempat beberapa tahun lalu juga, Pak Andi pernah mengobati anak sulungnya ketika sakit. Mereka percaya Pak Turo, Hingga jika ada sesuatu tentang perdagangan atau pun keluarganya yang sakit, Pak Andi sering meminta kepada Pak Turo untuk mendo'akannya.
" Beberapa hari kemarin, Anak gadis saya, Khumair. Meminta saya untuk mencari alamat seorang anak lelaki yang telah menyelamatkannya ketika di air terjun desa Situ Berkah ini. Sebelumnya ia telah mencarinya sendiri, namun tidak menemukan rumahnya. Mungkin bapak bisa membantu kami dalam memenuhi nadzar anak saya ini ". Ucap Pak Andi memulai maksudnya.
" Maaf, Pak. Memangnya Nak Khumair ini bernadzar seperti apa ? " Tanya Pak Turo.
" Anu, Pak. Sebenarnya spele, hanya karena Ia telah terlampau janzi. Bahwa siapa saja orang yang pertama memeluknya, Ia lah yang akan menjadi suami anak saya ini kelak ". Jelas Pak Andi.
Setelah semuanya terbuka, Khumair dibantu ayahnya pun mulai bercerita tentang nadzar dan kejadian di air terjun beberapa hari lalu. Setelah semuanya jelas, Pak Turo pun mengerti maksud mereka.
Ketasawufan Khumairlah yang selalu menjaga dirinya dari bentuk maksiat yang bisa menghinakan akhiratnya. Hanya karena itu ia ingin mencari lelaki yang telah menyelamatkannya untuk dapat menikahinya. Meski dalam keadaan darurat waktu itu, semua kejadian itu tidak mengubah niat Khumair untuk menepati janzinya.
" Abduh, berikan dua gelas air ini kepada tamu di depan. Ibu mencari Budi dulu ia belum makan dari tadi pagi ". Pinta Bu Astuti ketika Abduh menemuinya di dapur.
Mungkin itu adalah hal yang biasa Abduh lakukan, sering sekali setiap tamu yang datang ke rumahnya, Abduh melakukan hal seperti itu. Karena Ia tahu, Ibunya tidak akan menemui tamu siapa pun tanpa izin dari suaminya terlebih dahulu.
" Kamu.. ! ". Ucap Khumair ketika Ia melihat Abduh memasuki ruangan tamu.
Semuanya terbata, gadis yang Abduh selamatkan beberapa hari lalu itu kini ia berada di rumahnya. Semuanya merasa hati Abduh dan Khumair tidak biasanya. Mereka pernah saling berjumpa sebelumnya.
" Ayah, itulah anak lelaki yang telah menyelamatkan Khumair di air terjun ! ". Ucap Khumair dengan perasaan lega.
Semuanya berdamping, Abduh pun turut duduk bersama mereka di ruang tamu. Khumair terlihat senang sekali telah menemukan apa yang diinginkannya.  Setelah saling mengetahui bagaimana peristiwa di air terjun dan latar belakang mereka berada di ruang tamu itu. Suasana pun menjabar, banyak cerita tawa dan pengalaman mereka masing-masing.
" Jadi bagaimana, Pak Turo. Bersediakah bapak dan anak bapak menjadi bagian dari keluarga kami ". Potong Pak Andi di sela ceritanya.
" Dalam hal ini Abduh sendirilah yang berhak menentukannya, Saya setuju saja jika Abduh memang bersedia " Ucap Pak Turo melemparkan.
" Bagaimana Abduh ? " Tanya Pak Andi meneruskan.
" Abduh bagaimana Khumair saja, Pak. Jika Ia bersedia insyaallah Abduh juga bersedia ". Jelas Abduh juga melemparkan.
Khumair tidak berkata sepatah kata pun, Ia hanya bersenyum menaburkan rasa bunga keinginannya untuk mereka. Inilah yang diinginkannya, karena hal yang dibicarakan merekalah yang Ia harapkan.
" Tanda seorang anak perempuan hanya tersenyum jika hatinya katakan " iya ", benar tidak, Nak ? ". Ucap Pak Turo mengisi percakapan.
Tawa pun mengisi waktu mereka sesaat kembali, percakapan lebih menutur lagi setelah kedatangan Bu Astuti yang baru selesai menyuapi Budi makan. Semuanya nampak bahagia dengan pertemuan teman lama itu, hanya dengan dasar sebuah nadzar dan kepatuhan hati terhadap tanggung jawab mereka akhirnya dipertemukan.
Keesokan harinya, nampak semua tidak terduga. Pagi sekali para sahabat Abduh berkumpul menemuinya. Tidak terasa esok adalah hari senin, dengan kata lain waktu mereka bersama telah berakhir karena mereka harus berada di kota besar ditempat mereka bekerja dan mengakhiri liburannya itu. Kedatangan mereka nempak jelas membuka jalan bagi kehidupan Abduh, dengan mereka pula lah Abduh dapat dipertemukan dengan Khumair dan memberikan peluang untuk niat kerjaannya setelah para sahabatnya itu kembali kelak. 
" Kami turut pamit Abduh, maafkan kami tidak bisa menghadiri pesta pernikahanmu. Insyaallah, selekas mungkin kami akan kembali ke Situ Berkah untuk melihatmu yang sudah berkeluarga kelak. Besok pagi kami harus berada disana kembali, Abduh do'akan kami untuk bisa kembali melihat dan merasakan kebahagiaanmu dan kami pun selalu mendo'akan  untuk kesejahteraan mu ". Jelas Rais dalam pamitnya.
" Aku akan merindukan kalian, sahabat-sahabatku ". Ucap Abduh melepaskan.
Semuanya begitu cepat terjadi, sahabat- sahabat Abduh kini harus meninggalkannya disaat Ia akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka pun menutup kebersamaan dengan pelukan.

***

" Aku tidak bisa lakukan apa-apa lagi Yuki, hidup dan masa depanku sudah hancur. Mungkin karena banyak hal yang aku lakukan dan membuat hidupku sendiri seperti ini. Aku memang menyesal, Aku sadar. Namun tidak akan pernah lagi kesadaranku ini menghapus penyesalanku. Besok pagi aku akan pergi ke Situ Berkah. Disana ada saudara  ayahku yang tinggal. mungkin aku bisa disana sampai anak ini lahir ". Jelas seorang mudi itu kepada sahabatnya.
Malam itu adalah malam terakhirnya, karena meski tanpa izin orang tuanya pun ia akan meninggalkan kediamannya. Asri adalah seorang anak perempuan dewasa yang tengah dalam kesukaran karena apa yang telah dilakukannya beberapa bulan lalu. Kini ia menanggung semua itu sendiri, ia terlanjur mempercayai tunangannya itu karena akan menikahinya dalam waktu dekat. Namun, semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Ia meninggalkannya setelah ia menyentuhnya.
Pernah ayahnya katakan, " Ayah tidak akan pernah menganggap kamu sebagai anak ayah jika kamu menodai keluarga kita ". Mungkin dengan dasar itulah ia berpikir untuk lebih baik meninggalkan keluarganya.
Kini usia kandungannya beranjak tiga bulan, dengan ketakutannya terhadap orang tua yang akan mengetahuinya sesekapan, karena itulah ia akan meninggalkan mereka. Ia tidak ingin menambah cepritan noda bagi keluarganya.
Pagi itu tampak masih buta sekali, sebelum subuh, Asri siap bergegas meninggalkan rumahnya. Ia menangis. Hanya berbekal niat dan barang bawaan yang seperlunya, perlahan ia pun bergegas menuju pagi yang berada diambang pintu rumahnya.
" Ayah, Ibu. Sekapan kalian akan tahu betapa hancurnya aku saat ini ". Kata terakhirnya ia ucapkan didepan pintu rumahnya.
--
" Budi bangun, sudah hampir subuh. Semalam bilang ingin dibagunkan cepat ". Gerutu Abduh sembari menarik selimut Budi.
Banyak leha dengan tidur Budi pagi itu, mungkin karena semalaman Ia belajar, namun ia anak yang taat norma, meski umurnya kian beranjak tiga belas tahun, ia tidak pernah meninggalkan shalat lima waktunya. Namun anak kecil tetaplah anak kecil, terkadang ia bersikap seperti anak yang lainnya.
Pagi itu pun Abduh bergegas, Ia tidak bisa memaksakan Budi untuk berjama'ah bersamanya. Abduh pun berangkat ke air sungai terdekat karena tidak ada fasilitas kamar mandi di rumahnya.
Gemercik pagi pun dihiasi tetesan air langit yang membasahi bumi. meski seperti itu, Abduh tetap melangkah menuju sungai yang tidak jauh dari rumahnya.
" Sungguh mulia jiwamu Abduh, kelak kau akan seperti ayahmu yang berguna bagi masyarakatmu ". Guman Bu Astuti ketika melihatnya di sungai desa.
" Ibu, sejak kapan ibu berdiri disana, Ayah dimana, Bu ? " Tanya Abduh kaget ketika melihat ibunya sedang memperhatikannya.
" Ayahmu sudah bangun beberapa jam yang lalu. Abduh, bagaimana Khumair menurut mu ?. Apakah Abduh benar-benar bersedia ?, ya mungkin ibu hanya takut jika kamu terpaksa, Ibu takut Abduh mengecewakan mereka ". Ucap Bu Astuti memulai.
" Sudahlah, Bu. Insyaallah, Khumair gadis yang baik. Ia pasti bisa membuat Abduh bahagia ketika kelak menjadi suaminya ". Jelas Abduh ketika menghampirinya.
" Ibu, ayo lekas ibu ambil air wudhu, kita shalat berjama'ah. Abduh tunggu ibu di rumah ". Ucap Abduh menambahkan.
Pagi itu pun dihiasi oleh do'a keluarga yang beriman, mereka shalat berjama'ah setelah Bu Astuti sesampainya di rumah. Salam, setelahnya mereka bersalaman dan saling memaafkan.
" Ayah, sebentar lagi Abduh akan menjadi seorang suami bagi istri Abduh, do'akan Abduh agar keluarga Abduh menjadi keluarga yang beriman ". Ucap Abduh dalam ciuman tangannya.
" Tentu Abduh, Ayah selalu berdo'a agar keluarga serta cucu ayah kelak menjadi keluarga yang selalu dalam rindangan ridha Allah SWT ". Jelas Pak Turo dengan memelukanaknya.
" Assalamu alaikum ! ". Terdengar sautan salam dari depan rumah dengan beberapa ketukan pintu. Pak Turo bergegas menemui sumber suara itu, dengan maksud menemuinya karena khawatir ada seseorang yang membutuhkannya.
" Waalaikum salam, Nak ini siapa ?. Maaf, ada perlu apa pagi sekali seperti ini ?. Tanya Pak Turo setelah membukakan pintu.
" Saya Asri, Pak ". Ucap gadis itu.
Dalam penat waktu itu, suaranya terpatah-patah, Ia melihat ke arah lampu teras yang berada di atas kepalanya dan  tiba-tiba ia jatuh pinsan, nampaknya ia sangat kelelahan sekali. Pak Turo pun memburunya dan membawanya ke kursi ruang tamu.
Melihat kejadian seperti itu, mereka semua terkaget, Budi yang tengah tertidur pun kini terbangun mendengar kebisingan mereka mengurus Asri yang tengah tergeletak di kursi depan. Ia hanya bisa memandanginya pana dalam hiruk Bu Astuti membuatkan air hangat dan berkali mengusapkannya ke kening dan hidung Asri.
" Mbud, bisa bantu ibu, sekarang Mbud shalat subuh dulu dan lekas temui ibu kembali ". Jelas Bu Astuti dalam kekhawatirannya.
Budi pun bergegas, setelah bersiap kemudian Ia shalat. Asri masih belum sadarkan diri,  saat budi kembali di tempat semula Ia termenung bangun memandangi hiruk tadi.
Sekitar dua jam lebih kemudian, kini Asri pun siuman. Ia terbangun kemudian menangis. Ia merangkul Bu Astuti dengan dekapnya.
" Saya minta maaf Bu Astuti, Pak Turo. Saya pergi dari rumah, mudah-mudahan bapak dan ibu bersedia menolong saya untuk tinggal sementara di rumah kalian. Saya tidak ingin mengecewakan keluarga saya dengan cabang bayi yang ada di perut saya ini ". Jelas Asri ketika beberapa saat setelah terbangun.
" Astagfirullah ". Ucap mereka serentak.
" Nak ini kenal keluarga kami ? " Tanya Pak Turo memotong
" Tentu, Pak. Saya anak Pak Beni yang dulu pernah berobat ke rumah bapak ini. Bapak tolong saya, saya berjanzi, akan sebaik-baiknya tinggal disini ". Harapnya membalikan
--
" Khumair, bagaimana menurut mu tentang Abduh anak Pak Turo itu ? Apakah Khumair benar-benar yakin dengan keputusan Khumair ?. Bukannya Ayah meragukan, Hanya ayah takut karena dasar janzi itu  sesekapan Khumair bisa meninggalkan tanggung jawab jika tanpa landasan suka ". Jelas Pak Andi memulai percakapan.
" Khumair  cinta, Ayah. Khumair yakin. Saat Khumair pergi ke air terjun desa suka damai itu, sebenarnya Khumair tidak ingin pergi. Tapi, Khumair percaya ada yang ingin Allah tunjukan disana dan akhirnya Khumair pun ikut bersama teman-teman Khumair. Saat bertemu Abduh, Khumair yakin. Khumair percaya Ia, Ayah ". Jelasnya menerangkan.
" Syukur jika seperti itu, ayah tidak ingin lama-lama. Ayah secepatnya akan pergi ke rumah mereka dan meminta mereka untuk datang dan meminangmu, Khumair. Ayah sangat sekali ingin cepat mendapatkan cucu darimu ". Jelas Pak Andi menambahkan.
Keduanya pun tersenyum, mereka paham. sebuah keluarga tua tidak akan sempurna jika tanpa terdengar tangisan bayi di rumah mereka.
--
Seketika suasana meriak, tiada tanya hanya tangis yang terus terdengar di ruang tamu itu. Pak Turo tidak mungkin katakan tidak, karena dengan kata " Tolong " Ia akan selalu melaksanakannya untuk memenuhi nilai ibadah dan amal kebaikan. Seperti sebelumnya, Ia selalu katakan itu meski berat baginya.
" Bapak tidak apa-apa, tapi bagaimana jika seseorang tahu bahwa ada seorang wanita di rumah bapak dan bukan hak bapak untuk merawatnya. Orang lain pasti akan berkata lain,  karena bapak mempunyai seorang anak laki-laki yang seusia Nak Asri ini ". Jelas Pak Turo meragu.
" Ya mungkin tidak apa. Dengan syarat keberadaan Nak Asri jangan sampai diketahui warga. Semua itu akan baik-baik saja jika Nak setuju ". Ucap pak Turo menambahkan
" Bagaimana lagi, Pak. Saya setuju dengan maksud bapak, saya akan menjaga maksud itu ". Ucap Asri menyanggupi.
Beberapa hari pun sudah, seperti yang telah disetujui Asri sebelumnya , ia pun tinggal di rumah pak Turo dalam jangka waktu yang ditentukan. Namun kerap ketidak nyamanan selalu menghantui keluarga itu akan keberadaannya.
Ia hanya bisa meratapi apa yang telah dipikirkannya sebelum bergeming dari rumahnya dahulu. Ia selalu menangis, Ia menyadari apa yang telah menjadi kesalahannya. Hanya karena itulah pak Turo mengizinkan ia tinggal di rumahnya untuk hidupnya juga kelak.
Sejauh ini pak Beni dan istrinya pun tidak pernah mencari keberadaan anaknya sama sekali, mungkin mereka sudah tahu dari beberapa temannya tentang apa yang tengah terjadi kepada anaknya. Karena Yuki juga selain sahabat Asri, ia juga seorang Bibi dan masih keluarga dari pak Beni. Namun, mereka hanya  membiarkannya, karena mereka tahu, Asri telah mencoreng nama keluarga besarnya.
" Asri, apa kamu tidak terlalu dekat dengan tunangan mu itu, karena Ia hanya tunangan mu dan sama sekali belum menjadi suami mu ". Jelas Bu Ani memulai setelah mengetahui tunangannya sering pulang larut malam dari rumahnya dahulu.
" Tidak Bu. Asri akan baik-baik saja. Kholik juga anak yang baik. Ia tidak akan seperti yang Ibu dan Ayah pikirkan ". Jelas Asri.
" Ayah tidak akan pernah menganggap kamu sebagai anak ayah jika kamu menodai keluarga kita !! ". Jelas pak  Beni mengesal.
Kini perkataannya itulah yang menjadi beban pikirannya. Jika ia mengingat cakap tersebut semuanya seakan telah berakhir baginya. Menyesali dan sering menemui keputus asaan dalam hari-harinya. Ia sangat sekali mencintai tunangannya itu, karena sebelumnya ia adalah lelaki yang baik dan bersusila. Namun, yang Asri tahu hanyalah sekarang ini, inilah kenyataannya. Hanya bergelut dalam ruangan berukuran 2x3 dan beraktifitas seperlunya saat masyarakat masih tengah tertidur.
Namun tetap ia sangat bersujud sekali atas Pak Turo dan keluarganya yang selalu menyirami kehidupannya dengan beberapa fatwa dan nasihat, untuk hati dan beberapa waktu dalam kehidupannya kedepan. Ia selalu berusaha, meski kenyataan selalu mengambing keyakinannya.

***

" Pak, bagaimana dengan rencana pernikahan anak kita yang telah kita bincangkan sebelumnya. Mungkin terlalu terburu-buru sekarang saya katakan, namun itulah yang saya pikirkan untuk mereka. Dari pada kita menundanya melama-lama, saya takut semuanya menjadi seperti yang tidak kita harapkan. Maklum juga pak, saya menginginkan sekali kehadiran seorang cucu ". Jelas pak Andi ketika mengutarakan maksudnya menemui keluarga pak Turo.
" Saya setuju saja, Pak. Namun kami masih seperti ini keadaannya. Beri kami waktu dulu beberapa hari untuk mempersiapkan  dana resepsinya, setidaknya sampai kebun pohon Jenjing kami terjual ". Jelas pak Turo.
" Tidak apa, Pak. Sebenarnya saya yang malu. Anak saya perempuan, dan ia juga yang meminta untuk dinikahkan dengan Abduh anak bapak, dan Abduh jugalah yang  pernah menyelamatkan nyawa anak saya. Untuk melengkapi kekurangan itu. Sekiranya, biarlah semua dana resesi keluarga kamilah yang menanggung. Jika bapak mempunyai kebun, lebih baik tempat dan kayunya kita gunakan untuk rumah mereka setelah menikah. Bagaimana menurut bapak ? ". Jelas pak Andi menawarkan.
Pak Turo pun tersenyum, Ia percaya inilah rejeki Allah yang telah dipersiapkan untuk Abduh anaknya. Begitu mudahnya jika telah tergariskan sebagai qobul do'a yang selalu Abduh dan keluarganya panjatkan.
" Hari minggu besok, keluarga bapak saya undang untuk datang ke kediaman saya dalam rangka meminangkan anak kita. Bapak tidak perlu bawa apa-apa, karena bagi kami, kita bisa berunding menentukan tanggal pernikahan mereka, itu adalah kehormatan bagi kami ". Jelas Pak Andi disela kepamitannya.
" Baiklah pak, nanti saya perhitungkan tanggal dan persiapannya ". Tutup Pak Turo.
Sekejap pun semuanya akan menyata. Khumair yang telah berjanzi pun kini tinggal beberapa langkah lagi ia dapat  memenuhinya. Mereka berbahagia, karena disaming itu mereka juga dapat mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan  setelah pernikahan anak mereka.
Seperti yang telah disepakati Pak Turo sebelumnya, Ia pun bersama keluarganya datang untuk meminang pada minggu ini. Dengan seadanya, mereka bergegas memenuhi undangan yang telah diucakan Pak Andi terdahulu.
Menurut Pak Turo, ia menetapkan tanggal pernikahan itu pada tanggal 18 hari sabtu bulan depan. Karena ia berhitung bulan ini adalah bulan Dzulqo'dah atau didaerahnya menyebutkan bulan hapit, karena bersebrangan antara bulan Syawal dengan bulan Dzulhijjah atau bulan haji. Menurut para pepatah terdahulu bulan hapit itu kurang mendukung untuk acara yang mereka rencanakan tersebut, karena memiliki dampak tersendiri bagi keselarasan dan kelangsungan pernikahan. Karena itu bulan ini jarang dan hampir tidak ada yang melaksanakan acara pernikahan.
Namun, Pak Andi bermaksud lain. Yang dipikirkannya hanyalah kesegeraan untuk acara tersebut. Ia menganggap semua bulan itu baik, karena pada dasarnya Allah tidak akan menciptakan hal tersebut hanya untuk tidak keharusan manusia dalam melakukan sesuatu. Ia menetapkan pada bulan ini, yaitu tepatnya pada hari sabtu tanggal 18 bulan Dzulqo'dah atau Hapit ini.
Paham pun mulai berselisih hangat. Namun dengan kata tidak lain, yang memegang dan mendominasi kekhariban acara tersebut adalah Pak Andi. Dengan istilah lain, Pak Turo pun menyetujui apa yang dimaksudkan Pak Andi dengan tanggal itu.
" Baiklah, Pak. Kita semua sepakat, semoga acara kita kelak akan berjalan seperti yang kita harapkan. Mudah-mudahan juga mereka selalu dalam mawaddah keluarga yang sakinah bagi anak-anak dan keluarganya ". Jelas Pak Andi menuturkan.
Ruangan itu pun menghidmat, meski Pak Turo sedikit berlelang hati. Ia hanya bisa menyepakati atas apa yang telah ditetapkan Pak Andi. Ia menutupinya dengan ramahan senyum dan penggalan cerita ketika berbagi kembali.

***

Pagi itu pun tiba, yang tengah diharap-harapkan kini berujung pada waktu pernikahan yang telah direncanakan. Mereka bersiap, Pak Turo,  Abduh dan keluarganya berada di mobil terdepan. Sementara besan dan barang jamuan bersiap mengikutinya dari belakang.
Asri tidak turut ikut, sempat hatinya  meminta, namun sesuatu akan menyusahkan keluarga Pak Turo jika ia mengikuti keinginan hatinya. Ia hanya menunggu mereka kembali.
Suasana Desa Situ Berkah pun menyepi, Tiada sanak keluarga ataupun tetangga yang terlihat tidak turut dalam pesta pernikahan Abduh.  Keluarga Pak Turo adalah keluarga besar dan terpandang, tidak heran jika semua warga tetangga terdekatnya tidak turut merayakannya. Malah mereka mengadu dan rela membawa kendaraan sendiri demi ikut merayakan pesta pernikahan anak pertama Pak Turo itu.
Riung-riung mobil pun mulai berderet, setelah siap, mereka pun berangkat. Asri tersedih sendiri merasakan suasana pada pagi itu yang mengheningkan hatinya. Ia hanya bisa melihat semuanya bergeming ketika ia mengintip dari celah dinding bambu rumah.
Setelah semuanya benar sepi, Ia pun mulai berbenah merapikan rumah Pak Turo karena terlihat sangat berantakan sekali setelah acara selamatan semalam. Ia menyapu, mengepel dan menata kembali tata ruangan yang masih tidak beraturan. Tidak beberapa lama, Ia pun selesai. Kini Ia beristirahat dan untuk menghibur hatinya Ia berduduk-duduk dibawah pohon jambu halaman rumah serta menyapunya juga.
Namun tidak disangka, seorang tetangga yang kebetulan anaknya sedang sakit melihatnya. Ia juga tidak turut ikut ke acara pernikahan Abduh karena mengurus anaknya tersebut. Wanita berparuh baya itu termenung dari jendela rumahnya sembari memikirkan siapa gadis yang tengah menyapu halaman itu.
" Astagfirullah, Ia juga hamil muda ! ". Ucap hati wanita paruh baya itu dalam sela pengamatannya.
" Jangan-jangan ia adalah gadis simpanan atau sengaja Ia dipelihara Pak Turo untuk menyembunyikannya ? ".
" Bisa juga kan teman abduh atau sanak keluarganya ? ".
" Apa jangan-jangan ia adalah kekasih Abduh yang disembunyikan karena takut ketahuan masyarakat atas aib nya ".
Begitulah tanya-tanya wanita itu dalam hatinya. Ia penasaran, Ia takut yang dipikirkannya itu adalah kenyataannya. Dengan memberanikan diri untuk mengetahui Ia pun menghampiri Asri yang tengah menyapu halaman rumah.
" Maaf, siapa Nak ini ? ". Tanyanya menghampiri Asri yang tengah tertunduk menyapu.
Mendengar tanya sapa wanita itu, Asri yang tengah khusuk menyapu pun terkaget. Ia tidak menyangka masih ada tetangga Pak Turo yang berdiam di rumahnya. Ia sangat ketakutan sebelum menjawab tanya wanita itu. Dengan perasaan tak menentu, Ia pun berlari meninggalkan wanita paruh baya yang bertanya itu menuju rumah dan mengunci pintu seketika.
Melihat kejadian itu, wanita paruh baya itu semakin mencuriga dengan perlakuan Asri. Hingga Ia menghampiri daun pintu dan bertanya kembali, " Nak, Nak ini siapa ? ". Tanya itu terus Ia ucapkan berkali-kali. Hingga Ia menunggu untuk sesaat dan setelah meyakini Asri tidak akan bercakap dan menemuinya Ia pun bergeming.
" Ya Allah.. Aku memang seorang yang terlampau terhina, jangan buat seseorang yang baik dan menjagaku ikut merasakan kehinaan ini atas apa yang telah aku perbuat ". Jelas Asri dibalik pintu yang Ia kunci.
-
Suara Petasan pun mulai terdengar menggelegar ricuh di keramaian sana. Bising itu menandakan rombongan yang paling dinanti oleh syaihul bait telah tiba. Laksana palungan air bah yang tumpah menerka mereka yang tengah menunggu kedatangannya. Semuanya berjalan sahaja, acara pun dimulai dengan penjamuan tamu yang di lanjutkan dengan acara inti. Izab pun kini terdengar oleh mereka yang berada didepan.
Abduh bergetar, dalam sela itu dengan basmalahnya lah Abduh mengeratkan jabatnya dan mengucap qobul seperti yang sudah Pak Turo jelaskan semalam.
" Syah..? " Tanya seorang Na'ib kepada kedua saksi.
Gema lafadz " Alhamdulillah " pun terdengar menyerentak. Satu detik setelah itu, kini Abduh dan Khumair resmi menjadi suami istri. Sejak saat itu Ia berhasil menepati nadzar dan janzinya dengan penuh rasa keibadatan. Karena dengan Abduh Ia percaya akan menjadi khairul amr baginya dan keluargannya kelak.
Berawal dari sebuah nadzar dan kejadian di air terjun desa Situ Damai mereka dapat bersama. Namun, atas qodar Allah lah mereka dapat dipertemukan dengan berbagai jalan yang telah di liris-Nya.
Beberapa tahun yang lalu, ketika duduk di bangku SMP, tepatnya ketika  Khumair baru beranjak dewasa. Ia pernah mempunyai kekasih yang sangat dicintainya. Ia juga temannya sejak kecil. Namun kekasihnya itu meninggal dunia setelah lulus dari SMP.
Pernah Khumair katakan, " Tidakkah kamu ingin memelukku ? ". Saat itu kekasihnya tengah sakit dan Khumair menjenguknya. Sebenarnya Khumair telah memfirasati keadaan kekasihnya itu sebelumnya, bahwa Ia tidak akan lama lagi untuk bertahan karena sakit yang dideritanya. Dengan dasar itulah Khumair mengatakan " Peluk " untuknya, karena Ia takut tidak akan berjumpa lagi dengannya.
Saat itu juga kekasihnya berkata, " Tidak, Khumair.  Berjanzilah padaku, Kahumair, pelukanmu akan kau berikan hanya kepada suamimu saja kelak ". Sejak saat itulah Khumair berjanzi, Ia bernadzar seperti janzi yang telah diberikan kekasihnya terdahulu itu. Bahwa Ia akan hanya memeluk seorang lelaki yang hanya suaminya.
Dengan maksud itu, Ia akan bersungguh mencari calon seorang suami yang hanya untuknya dan Ia untuk suaminya. Hingga kekasihnya itu meninggal beberapa waktu setelahnya, sejak saat itu juga lah nadzar itu telah dimulai.
Kini dalam hilir lautan kebahagiaan pernikahannya Abduh dan Khumair, selalu ada yang terbalik dibalik sesuatu. Dari acara selametan semalam di rumahnya, Pak Turo selalu berpikir dengan hari  tanggal ini. Hati dan perhitungannya selalu searah meski tengah berjalan dalam suatu yang telah direncanakannya dahulu bersama Pak Andi untuk acara ini.
" Memang tidak salah, juga tiada anjuran untuk tidak melaksanakan dalam tempo ini. Namun, hanya firasat ku sendiri lah yang memanggiku untuk mengingat apa yang akan terjadi setelah ini ". Jelasnya dalam hati yang terus merasakan sesuatu itu.
Para tamu undangan pun hilir meninggalkan tempat acara satu demi satu. Setelah benar-benar selesai, sore itu keluarga Abduh pun turut juga meninggalkan. Namun, Abduh tidak ikut pulang, karena Ia akan tinggal untuk beberapa waktu disana dengan seperintah Pak Andi.
Keluarga mereka sangat saling melengkapi, Pak Turo tidak mempunyai anak perempuan dan keluarga Pak Andi sebaliknya, Ia tidak ada yang membantunya berdagang karena anaknya hanya satu dan Ia pun seorang perempuan. Dengan pernikahan itu mungkin Pak Andi sudah merencanakan sebelumnya. Setelah ini Abduh akan bekerja di kios nya untuk membantunya berjualan.
Janzi Allah selalu tidak akan pernah berubah bagi setiap makhluknya, dengan berkeluargalah segala sesuatu akan terbuka. Setiap yang terlahir telah mempunyai garis kehidupannya, hanya berusaha keras dalam mewujudkannya itulah jalan yang Allah ciptakan untuk membedakan seseorang dalam qobul keinginannya.
Rizki pun akan selalu ada, tidak pernah seseorang mati hanya karena tidak mendapat rizki dari Allah untuknya. Allah Al-Gani, siapa saja yang meminta sedikit kemakmuran kepadanya, Ia pasti mendapatkannya. Begitu pun yang pernah Abduh rasakan sebelumnya, Ia takut, mengiba saat Ia membutuhkan sesuatu bagi keluarga dan kedua orang tua dengan keadaannya. Namun, dengan kepercayaan dan tawakalnya, kini Ia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Itu jugalah bentuk pengasih Allah terhadap janzi bagi setiap makhluknya.
Pernikahan Abduh pun terhitung  beberapa hari dari kemarin sudah selesai, dengan permintaan Pak Andi tentang Abduh saat pesta pernikahannya selesai kemarin, sudah beberapa hari ini juga Abduh belum pulang bersama Khumair istrinya menemui keluarganya di desa Situ Berkah.
Abduh mulai bekerja di pasar bersama menantunya, Ia menjaga kios, karena Pak Andi sengaja membangun sebuah kios lagi untuk Abduh berjualan. Memang hanya sampai sore Ia bekerja. Namun, terlalu jauh jika Abduh harus pulang pergi menemui keluarganya di desa bersama istrinya.
Dibalik setelah semua kebahagiaan itu, ternyata menyimpan segudang cerita yang kurang sedap terhadap keluarga Pak Turo di Desa Situ Berkah, yang membicarakan tentang seorang gadis yang hamil yang tinggal di rumah Pak Turo itu, ialah Asri. Bermula dari kabar seorang ibu dari tetangganya  yang melihat Asri secara langsung, kini mulai menyebar kesetiap peloksok desa tentang keberadaannya.
Keluarga Pak Turo dan Bu Astuti adalah sosok keluarga yang terpandang akan kezuhudannya. Dengan kata lain setiap apa yang menjadi tentangnya akan menjadi kontropersi dan menimbulkan pro dan kontrak terhadap pembicaraan masyarakat desa. Namun akan lain dengan apa yang dibicarakan mereka kali ini.
Sosok Asri telah terbongkar oleh sepengetahuan masyarakat. Hingga  beberapa tokoh masyarakat ingin membuktikan kebenaran itu. Mereka sengaja datang menemui Pak Turo bermaksud ingin mengetahui kebenarannya, namun mereka terlalu melihat seorang sosok Pak Turo, mereka bahkan mampu melupakan maksud kedatangan mereka setelah mencoba memulai dengan sedikit percakapan ketika di rumahnya.
Ternyata kabar itu semakin mendalam di benak masyarakat, ditambah lagi dengan seorang saksi lagi yang pernah melihat Asri ketika pagi sekali di sungai desa.
" Iya, saya juga melihat wanita hamil itu ketika mandi di sungai desa, dengan penasaran siapa dia, saya menunggu wanita itu sampai selesai, Ketika ia bergegas pulang saya mengikutinya, hingga didepan rumah Pak Turo, ia pun masuk lewat pintu belakang rumahnya ". Jelas saksi itu lagi bercerita.
Mendengar semua itu masyarakat kian meyakin akan kebenaran kabar itu, ketua RT desa Situ Berkah pun menyarankan untuk menunggu seorang saksi lagi untuk membuktikan kebenarannya, karena dua orang saksi saja tidak kuat untuk mengetahui apakah itu benar-benar kebenarannya.
Hingga suatu hari mereka berunding, mereka sengaja bergadang menunggu pagi hari itu tiba. Mereka berasumsi bahwa setiap pagi hari Ia akan pergi ke sungai desa, berharap tiada orang yang dapat mengetahuinya dalam keadaan sepi itu.
Pagi buta itu pun tiba, mereka telah siap menunggunya di pinggiran sungai, Genting semua itu seperti yang mereka bayangkan, Asri pun datang dengan sendirinya ke tepi sungai, mereka yang tengah menunggu mulai bersiasat berpencar untuk sembunyi, mereka tidak menggrebeknya secara langsung. Mereka juga harus membuktikan terlebih dahulu bahwa gadis itu  benar-benar hamil atau tidak.
Asri yang tidak tahu apa-apa, Ia hanya melakukan sesuatu sebagai mestinya ketika Ia di sungai, seperti yang biasa Ia lakukan setelah mandi Ia pun berwudhu untuk shalat shubuh nanti tiba. Ia selalu berdo'a dengan lantang di sela itu.
" Ya.. Allah, Aku memang terlampau hina. Namun, jangan kau buat seseorang yang baik dan menjagaku ikut merasakan kehinaan ini atas apa yang telah ku perbuat dahulu ". Panjatnya setelah berwudhu.
Hingga Ia pun bergegas kembali pulang. Namun, mereka yang bersembunyi dan menunggunya telah menunggu dibagian  tebingan sungai.
Asri yang melihat mereka, Ia tidak bisa berkata apa, Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keberadaanya  telah diketahui mereka sebelumnya. Ia juga tidak bisa berlari kemana untuk menjauh dari mereka yang ternyata telah menunggunya. Dalam keadaan itu, Ia pun kembali berdo'a seperti yang dido'akannya tadi.
" Ya.. Allah, Aku memang terlampau hina. Namun, jangan kau buat seseorang yang baik dan menjagaku ikut merasakan kehinaan ini atas apa yang telah ku perbuat dahulu ".
Semuanya pun tercanggung, mereka tidak menyangka seorang penzina mengucapkan do'a dihadapan mereka. Namun itulah hukum masyarakat, bagaimanapun Ia, siapa yang salah Ia lah yang bersalah. Asri pun diseret oleh beberapa dari mereka kebagian tepi sungai.
" Siapa kamu ? ". Tanya ketua RT itu tiba-tiba menyentaknya.
Asri tidak menjawab, Ia hanya membalasnya dengan menagis ketakutan. Seperti yang mereka tahu tentang kabar Asri sebelumnya, mereka pun membawanya ke rumah Pak Turo.
Hiruk keberhasilan mereka mempergoki Asri pun berhasil dan membuat keramaian desa dipagi buta itu. Masyarakat yang berada disekitar rumah Pak Turo pun terbangun dan berkumpul ikut menyaksikan apa yang tengah terjadi pagi itu.
" Pak Turo, Bangun. Siapakah yang kami dapat ini ? ". Jelas salah seorang dari mereka menggerutu yang terlihat anarkis itu.
Pak Turo yang dari tadi sudah terbangun pun Ia memburu sumber suara. Ia terlebih membangunkan Bu Astuti dan Budi dan mendekapnya. Karena dengan suara remang dipagi itu Ia terlebih takut dengan apa yang telah terjadi pada desanya semalam. Karena tidak biasanya pagi sekali mereka telah berbising di halaman sana. Pak Turo dan Budi pun memburu pintu.
Dalam detik itu Bu Astuti tersadar dengan keramaian dan keberadaan Asri di rumahnya, Bu Astuti membalik dan mencari Asri di kamarnya. Setelah  Ia menyadari Asri tidak berada di kamarnya. Dengan perasaan bergetar akan ketakutannya, bahwa mereka yang tengah teribut diluar pun adalah tentang Asri. Bu Astuti pun memburu Pak Turo dan Budi yang tengah memburu suara piuk itu di luar.
" Saya tidak menyangka dengan anda Pak Turo. Bisa-bisanya anda menyimpan wanita penzinah ini di rumah bapak. Apa maksud bapak !. Setidaknya anda bisa melapor dulu kepada ketua RT kita bahwa bapak memelihara wanita ini di rumah bapak ". Jelas ketua pemuda itu lagi yang terlihat anarkis.
Melihat kejadian itu yang masyarakat sangat serentak, Pak Turo tidak bisa menjawab apa. Sebelumnya memang Ia bersalah, Ia menyadari akan hal ini semenjak pernikahan Abduh minggu kemarin. Inilah jawaban firasatnya tentang bulan Hapit itu. bahwa Inilah yang akan menghancurkannya dan kehormatan keluarganya.
" Maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu mereka telah mengetahui keberadaan saya sebelumnya ". Rengek Asri dalam penyalahan mereka.
" Sudahlah Asri, ini sesuatu hal yang pasti akan terjadi. Kamu memang bersalah, tapi jangan salahkanlah dirimu untuk ini. Lebih bertawakallah untuk pengampunan  kesalahanmu ". Jelas Pak Turo menjawab.
Pagi itu pun mericuh, matahari seakan tidak akan bersinar kembali menerangi keluarga Pak Turo yang dalam kesukaran itu. Hanya tetesan embun pagi yang selalu menyejukan hati dan kepalanya atas cemooh mereka dalam kejadian itu. Mereka  semua pun menggiring Pak Turo dan keluarganya ke Balai Desa untuk diminta mempertanggung jawabkan atas permasalahan ini. Semuanya hampir tidak terkendali, karena sebagian besar dari mereka menyalahkan Pak Turo sepenuhnya. Sebagian lagi yang memandang dan menaruh kepercayaan terhadapnya hanya bisa membelanya dengan meredamkan amarah masyarakat yang menggila.
" Usir saja Pak RT wanita ini dan keluarga Pak Turo dari desa kita ". Tegas ketua pemuda itu lagi setelah sampai di Balai Desa.
" Sudahlah !!. Ini juga bukan kesalahan Pak Turo sepenuhnya. Kamu diam saja, ini tugas saya menentukan apa yang sepantasnya bagi mereka. Kita tanyakan dulu motifnya seperti apa, setelah itu baru kita memutuskan !!  ". Jelas Pak RT kepada ketua pemuda yang sangat tidak menyukai permasalahan itu.
Asri dan keluarga Pak Turo itu pun mulai di dudukan dengan pertanyaan- pertanyaan mengenai seputar permasalahan. Semuanya kian tampak terarah, keributan-keributan yang tadi menderu  kini tidak terdengar lagi seiring matahari yang meneteskan bekuan embun di desa mereka. Namun Asri tidak berhenti menangis dengan semua kejadian itu. Ia malu, Ia merasa sangat bersalah sekali terhadap keluarga yang ditumpanginya itu.
" Asri anak Pak Beni dari keluarga sepupu saya juga di desa Karang Indah. Keluarganya tidak menganggap Ia sebagai bagian dari keluarganya dengan kesalahan yang telah dibuatnya dahulu. Bermaksud untuk menyelamatkan nyawanya, akhirnya keluarga kami menolongnya untuk tinggal di desa kita ini bersama keluarga kami ".
" Saya mengakui kesalahan saya atas tanpa sepengetahuan masyarakat kita akan keberadaannya. Saya hanya menolongnya ". Jelas Pak Turo dalam beberapa pertanyaan yang ditunjukan kepadanya.
Semua yang Ia tahu kini Ia menceritakan semuanya. Dengan kesadaran semua kalangan masyarakat Ia mampu menjelaskan apa yang selama ini masyarakat bincangkan. Mereka mengerti, semua tuduhan atas kontrak terhadap keluarga Pak Turo ternyata tidak benar.
" Maaf, Pak. Semua permasalahan ini harus mempunyai akhir yang terbaik, seperti yang masyarakat kita inginkan. Saya selaku wakil dari mereka memutuskan untuk bapak mengembalikan Asri kepada keluarganya, biarlah ia menanggung apa yang telah menjadi kesalahannya jika keluarga bapak masih ingin tinggal di desa kita ini ". Jelas ketua RT itu memutuskan.
" Baik, Pak. Saya telah menduga semuanya akan terjadi seperti ini. Insyaallah, beri kami waktu sedikit  sampai nanti siang untuk ia  bersiap akan keberangkatannya ". Ucap Pak Turo menyepakati.
Suasana sidang desa pagi itu pun mulai menyepi, permasalahan kini terselesaikan meski keluarga Pak Turo harus melepaskan Asri dari didikannya. Sepenuhnya Asri memaklumi akan keputusan itu. Setelah sidang desa itu selesai pun Ia bersiap-siap merapikan barang bawaannya untuk bergegas meninggalkan desa Situ Berkah.

***

" Apakah bapak sama sekali tidak mencari keberadaan anak kita ?. Bapak sadarlah, seperti apa pun Ia, Asri tetap anak kita, kitalah yang bertangguang jawab atasnya. Kesalahannya adalah kegagalan kita sebagai orang tua, Pak ". Jelas Bu Ani
" Tidak, Bu. Asri sama sekali bukan anak kita lagi, ayah malu jika semua warga Karang Indah ini tahu bahwa anak kita telah hamil diluar nikah. Mau disimpan dimana muka bapak ini !! ". Jelas Pak Beni bersikukuh.
" Iya tidak apa !!. Biar ibu yang mencarinya sampai ketemu. Ingat Pak, Ibu tidak akan pulang sebelum Asri ibu temukan !! ". Lugas Bu Ani memarah.
Sekejap kedua orang tua Asri itu menyadari bahwa anaknya itu tidak akan pulang jika tanpa mereka yang memintanya untuk kembali. Pak Beni pun meluluh, hatinya bagaikan lilin yang sedang menyala. Meski lilin itu akan menerangi kelengkapan keluarganya, namun dengan itu juga lilin akan habis termakan api kemaluannya terhadap masyarakat. Begitu juga keluarga Pak Beni.
" Sudahlah, Pak. Gengsi hanya akan menyakiti perasaan kita. Asri anak kita dan akan tetap menjadi anak kita. Lebih baik sekarang kita cari tahu keberadaan anak kita dan membawanya pulang ". Jelas Bu Ani menambahkan.
Mereka pun bergeming, mereka bermaksud untuk mencari Asri setelah hampir dua bulan meninggalkan rumah. Mereka sepakat tidak akan kembali ke rumahnya sebelum menemukan akan perempuan sulungnya itu.
Sebelum berangkat, mereka terlebih mencoba bertanya kepada para sahabatnya. Dahulu memang Yuki pernah mengabarkan bahwa Asri telah pergi dengan penyesalannya itu, namun Ia tidak menjelaskan kemana Asri pergi, karena Asri sendiri yang melarangnya untuk memberi tahu.
Bapak Beni dan Bu Ani pun menemui kediaman Yuki, Keluarga Yuki juga memang masih keluarga dengan Keluarga Asri. Hanya Ia lah sahabat sekaligus bibi terdekatnya.
" Saya tidak tahu, Paman. Asri hanya mengatakan Ia akan pergi, bahkan Ia juga pun tidak berpamitan saat Ia pergi ". Jelas Yuki tidak memberi tahu.
" Tolong, Yuki. Asri tetap anak kami. Dialah anak kami satu-satunya, kami khawatir akan keberadaannya ". Jelas Bu Ani memohon.
Yuki pun mengiba dengan permohonan Bu Ani itu, ia bimbang. Memang tidak salah jika ia memberitahukan keberadaan anaknya juga, tapi Asri telah beramanat. Dalam keadaan seperti itu, tundukan kepala Yuki pun beriringan dengan permohonan Bu Ani itu.
" Baiklah, Bu. Saya minta maaf sebelumnya. Asri dahulu pernah berpesan untuk tidak mengatakan keberadaannya kepada ibu atau pun bapak. Asri berada di Situ Berkah, Bu. Ia tinggal di rumah Pak Turo yang Ia bilang masih sepupu bapak juga ". Jelasnya terpaksa.
Tanpa pikir panjang Bu Ani dan suaminya pun bergegas ketempat Pak Turo seperti yang dikabarkan Yuki. Yuki benar, mereka ternyata masih saudara dengan keluarga Pak Beni. Dengan itu, mereka tidak susah mencari alamatnya, karena mereka sudah tahu dan sering kesana ketika masih dulu.
--
" Jaga dirimu disana, bertaubatlah, Allah akan selalu mengampuni segala dosa hambanya yang ingin bertaubat ". Jelas Pak Turo yang terakhirnya ketika Ia menyaksikan Asri meninggalkan rumahnya.
Suasana pun mengharu dengan deraian langkah Asri meninggalkan desa Situ Berkah, Ia memutuskan untuk kembali kerumahnya dalam keadaan bagaimanapun Ia. Ia percaya dengan takdir baik Allah, akan kedua orang tuannya bisa memaafkan kesalahannya.
 Selang beberapa waktu, Pak Beni dan istrinya pun tiba didepan rumah keluarga Bu Astuti dengan mobil mewahnya, mereka berselisih jalan. Mereka sangat terkejut sekali  atas cerita Bu Astuti tadi pagi tentang Asri tadi pagi. Ia pasti sangat terpukul sekali dengan kejadian itu. Tanpa menunggu lama lagi mereka pun turut pamit untuk menyusul Asri yang kini menuju rumah mereka.
Kini usia kandungan Asri beranjak lima bulan, sangat terlihat jelas bagi siapa saja yang melihatnya. Ia memakai kendaraan umum untuk mencapai kediamannya itu, terkadang Ia kelelahan dalam perjalanan. Namun, dengan semangat hatinya Ia pun mulai merangkak demi tujuannya itu. Hingga Ia tiba, Ia tidak mempedulikan meski para tetangganya yang mulai menggunjing dengan keadaannya.
Didepan rumahnya Ia termenung melihat keadaan rumahnya yang tidak berpenghuni itu. Ia terus menangis mengisi waktunya yang tidak menentu. Ia menganggap ibu dan ayahnya juga telah pergi, Ia hanya bisa menunggu mereka kembali, Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia pun tertidur di kursi depan rumah bersama lelahnya.
" Asri.. ". Ucap Bu Ani membangunkan ketika mereka sampai kembali di rumahnya.
Asri pun sekejap terbangun mendengar suara yang selalu Ia kenal itu. Suara itu adalah ibunya, Ia pun membuka mata dan memeluk ibu dan ayahnya, Ia meminta maaf.

***

Hari itu pun kembali seperti sedia kala. Asri telah kembali tadi siang kepada orang tuanya. Tiada lagi yang mereka khawatirkan dengannya, sebelum pamit tadi Bu Ani dan Pak Beni telah berjanzi akan mencari tunangannya itu setelah menemukan Asri dan meminta pertanggung jawaban atas perlakuan terhadap anaknya. Sekiranya semua itu akan berjalan seperti yang mereka harapkan karena dengan diiringi kesadaran terhadap kesalahan mereka.
Hari itu juga sejarah telah mengubah keluarga Pak Turo, setelah keramaian tadi pagi kini masyarakat sedikit sepi kepada mereka. Secara tidak langsung, mereka tidak merasa senang akibat kejadian tadi pagi itu. Semua ini bagaikan sebuah takzir, mungkin mereka tidak bisa mengerti akan semua maksudnya, karena yang mereka tahu Pak Turo telah berani memelihara perempuan penzina itu di rumahnya. Bagi mereka itu adalah perbuatan salah yang sangat besar.  Karena itu Pak Turo dan keluarganya ikut tercoreng atas kejadian itu dengan sepeninggal Asri dari rumah mereka.
Disisi lain mereka juga merasa sepi  atas sosok seorang Abduh yang kini Ia tinggal di rumah menantunya, dahulu keluarga mereka sangat merindukan sekali seorang tangan perempuan di rumah mereka. Namun, setelah Abduh mendapatkan perempuan itu, Abduhlah yang ikut meninggalkan mereka dan bukan sebaliknya.
Dibalik kebahagiaan beberapa waktu lalu menyimpan sejuta kedengkian yang ditumpahkan kepada keluarga mereka. Seakan semuanya berjalan mengambang tidak beraspal. Ambang kehancuran keluarga Pak Turo kian terlihat dimata mereka, dengan tiada sapa dari masyarakat dan tanpa kekhariban seperti dulu. Masyarakat mereka tidak seperti biasanya.
Beberapa hari pun kian berlalu dalam keadaan seperti itu, matahari dan bulan juga silih berganti dengan lekasnya meninggalkan siang dan malam dengan berbekas dari hari-hari sebelumnya. Sepeninggal Asri kiranya mereka anggap akan selesai sampai disitu. Tetapi tidak, keadaan malah semakin mendalam meski tanpa penggali, api membesar meski tanpa bahan bakar dibawahnya. Keluarga Pak Turo semakin terpuruk.
Rupanya kabar itu telah menyebar luas dari mulut ke mulut masyarakat sehingga mengegerkan semua kalangan yang pernah mengenalnya. Sejak saat itu jugalah karirnya sebagai seorang Akhlu wal Hikmat merosot. Tiada lagi tamu ataupun kalangan yang membutuhkannya datang menemuinya untuk meminta do'a dan syafa'at kepada Allah lewat perantara  tangannya.  Sementara itu Ia hanya bekerja dikebunnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Apa yang akan Ia hasilkan jika hanya mengharapkan dari hasil kebun itu jika Ia pikir seperti itu. Sungguh tidak terbayangkan baginya, Namun hati besar dengan kesabaran tulus selalu bersamanya. bahwa Ia dan keluarganya akan selalu baik dalam fakta kebenaran yang ia genggam itu.
Semua ini juga dirasakan oleh Bu Astuti, pengajian ibu-ibu mereka menjadi sepi, tiada yang ikut mengaji meski hanya seorang. Sepertinya mereka ogah untuk datang kepengajiannya yang diadakan setiap jum'at pagi itu olehnya. Anak-anak pengajiannya juga satu per satu orang tua mereka mencabut izinnya untuk belajar ilmu kepadanya. Kini keluarga mereka mengalir sendiri, tanpa tangan masyarakat dilangkah mereka dalam menjalani sisa bahtera hidupan keluarga.
--
Dalam sela kesibukannya, Abduh pun bersama Khumair berniat untuk mengunjungi keluarganya di desa Situ Berkah, Dengan rasa rindunya yang menggebu, Abduh rela tidak bekerja hari itu, dengan suasana yang tidak begitu siang mereka pun berangkat. Hingga mereka tiba kembali di desanya.
" Hei, lihatlah, Abduh kini bersama istrinya itu pulang. Pasti istrinya juga tidak akan beda dengan seorang perempuan yang ia pelihara beberapa waktu lalu oleh keluarganya ". Jelas bisik seorang tetangganya itu.
Mendengar bisik yang terdengar oleh mereka yang melintas pulang pun mulai menuai resah. Tidak seperti biasanya para tetangga yang dulu selalu menghormatinya kini berkata demikian. Khumair yang tidak tahu apa-apa mulai membingung dengan apa maksud perkataan mereka.
Beberapa detik hati Khumair berhenti berdetak dengan perkataan para tetangganya itu. Apakah maksud mereka ?. Apa ada yang salah dengannya ?. Hatinya menginginkan penjelasan dari suaminya tentang latar semua itu, ia mengkerut. Bagaimana tidak, seorang istri semuanya pasti akan merasakan hal yang sama dengan Khumair jika dalam keadaan seperti itu. Mereka masih sangat muda dalam pernikahannya. Khumair takut suatu kebahagiaan akan segera menipunya.  
Setibanya di rumah, Abduh memeluk Ibu dan Ayahnya, Ia menangis, Ia mencairkan semua yang telah mengarang dalam kerinduannya. Pak Turo dan Bu Astuti pun demikian, mereka pun menangis bersama.
" Andai kamu tahu, Abduh. Apa yang telah terjadi kepada keluarga kita ". Guman hati Bu Astuti bercerita dalam dekapnya.
Abduh dan Khumair telah berniat untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Sembari berlibur, Abduh juga bisa kembali membantu ayahnya bekerja di kebun. Pernah Pak Andi katakan. Bahwa kebun yang ditanami pohon Jenjeng itu bisa dipakai untuk membuat rumah Abduh dan Khumair nanti, sebagai ganti dari mahar dan biaya pesta pernikahan dahulu, karena itu semua Pak Andi lah yang menanggung semua materi pernikahan mereka. Mungkin kini saatnya. Meski Pak Andi pernah katakan itu. Namun Ia tetap meminta Abduh untuk tinggal dirumahnya.
Mendengar bahwa Abduh dan istrinya akan menginap, keluarga mereka menggeger. Sebenarnya mereka tidak  ingin Abduh dan Khumair tahu dengan apa yang telah terjadi kepada keluarganya beberapa saat lalu. Namun, itu sangat berlawanan. Mereka saling merindu, dan tanpa kata tidak atau iya, malam pun tiba disana dengan kebersamaan mereka.
" Abduh, sebaiknya kita borongkan saja kebun Jenjeng kita itu, setelah tanah kosong, Bapak akan buka ladang disana. Bagaimana menurut Abduh ? ". Jelas Pak Turo setelah shalat magrib bersama.
" Abduh setuju saja, Pak. Bapak yang mengurusnya, bapak lebih berhak untuk itu ". Ucap Abduh menyanggupi.
Keesokan harinya pun kebun Jenjeng itu langsung terjual. Mungkin harganya tidak seberapa, karena sebagian besar kebun pohon Jenjeng  tersebut masih sangat kecil dan tidak menghasilkan kayu yang lebih banyak. Setelah tanah itu kosong, mereka pun lekas membuat garitan-garitan tanah untuk berlahan.
Sebagian uang dari hasil menjual hasil kebun tersebut mereka akan menggunakan untuk membuat sarana kamar mandi dan sedikit renovasi rumah mereka, dan sebagian lagi membeli bibit-bibit untuk mereka bertanam.
" Pak, sempat kemarin Abduh dan Khumair ketika baru sampai disini, kami mendengar tetangga kita berkata yang kurang sedap tentang Asri. Pak, bagaimana keadan Ia ?. Sejak kapan Ia pulang kepada  orang tuanya ? ". Tanya Abduh disela hembasan cangkul mereka.
 " Sudahlah, Abduh. Asri telah kembali, Ia akan segera menikah dengan tunangannya itu. Sedang masyarakat kita, mungkin mereka tidak suka saja dengan keberadaannya. Jangan dipikirkan Abduh...". Jelas Pak Turo terpotong oleh kedatangan Bu Astuti dan Khumair ketika mengantarkan makanan untuk mereka.
Siang itu adalah hari petama mereka dapat berkumpul kembali. Sungguh semuanya seperti yang pernah Bu Astuti harapkan, kini Ia mempunyai teman kedua dalam mengurus rumah dan keluarganya. Semuanya nampak bahagia di ketika berada ladang baru mereka itu. Abduh, Khumair, Pak Turo dan Bu Astuti dan semua rumput yang bergoyang yang berada disana pun dapat merasakan kebahagiaan yang tidak terkira itu.
Kebahagiaan akhirat yang kekal adalah syurga Allah, dan kebahagiaan dunia adalah kedamaian dalam berkeluarga dengan seorang istri yang shalehah kepada suaminya. Meski selalu memiliki kekurangan dalam berbagai hal duniawi, Kedua kebahagiaan itulah mereka kini mendapatkan hembusan angin dari sedikit kebahagiaan akhirat dengan kehidupan dunia mereka yang mendorongnya.
Setelah semuanya beres, mereka pun bergegas, satu persatu mereka pun pulang dengan berdampingan. Budi di rumah sendirian, mungkin Ia telah pulang sekolah karena pagi sudah beranjak dzuhur hari ini, Ia pasti telah menunggu mereka di rumah dengan makanan yang diharapkannya.
" Hei, lihatlah, Abduh kini bersama istri dan keluarganya itu pulang dari kebun. Pasti istrinya juga tidak akan beda dengan seorang perempuan yang ia pelihara beberapa waktu lalu oleh keluarganya ". Jelas bisik seorang tetangganya itu lagi yang kini semuanya mendengar ketika pulang menuju rumah.
Mereka tidak menanggapi dengan berjalan terus, keluarga Pak Turo sungguh berhati mulia sekali, justru sebaliknya, mereka malah melemparkan senyum untuk apa yang tetangganya itu ucapkan. Namun, Khumair yang tidak mengerti, Ia merasa tersinggung. Sempat kemarin Ia percis mendengar ucap mereka yang seperti itu, kini Ia dengar kembali. Ia merasa tidak enak dengan perkataan mereka.
" Abduh, kenapa mereka berkata seperti itu kepada ku, apa yang telah terjadi sebelumnya ? ". Tanya Khumair kepada suaminya yaitu ketika sesampainya di rumah.
Memang tidak pernah Abduh cerita sebelumnya, Ia takut terjadi kesalah pahaman dengan semua ini. Abduh pun menarik kedua tangan Khumair dan membawanya kepada kedua orang tuanya yang tengah selesai shalat berjama'ah dzuhur itu, dengan berharap merekalah yang dapat menjelaskan semua apa yang telah dipikirkan Khumair.
Dengan harapan Abduh Pak Turo dan istrinya pun bercerita. Banyak kejadian juga yang Abduh baru mendengar dari cerita mereka. Ternyata begitu canggungnya mereka saat ini dimata masyarakat setelah keberadaan Asri terbongkar, namun dengan maksud mereka yang lain, Abduh dan istrinya pun mengerti, kenapa sempat mereka tidak senang jika Abduh menginap bersama istrinya sejak kemarin Ia kembali.
" Maafkan Khumair Pak, Bu. Sempat dari kemarin Khumair mendengarnya, sebenarnya Khumair ingin bertanya. Kenapa ? Ada apa ?. Sempat juga Khumair berpikiran shuuzan kepada Abduh dan keluarga bapak ". Jelas Khumair menyadari.
" Tidak apa Khumair, pada dasarnya semua yang pertama mendengar akan selalu berpikir kearah sana. Tapi biarlah, ini kita, dan bukan mereka ". Jelas Pak Turo menegarkan hatinya.
" Astagfirullah aladzim.. ". Tiba-tiba Bu Astuti mengagetkan mereka.
" Ada apa, Bu ? ". Tanya Pak Turo peduli.
" Tadi botol dan golok Bapak ketinggalan di kebun ". Jelas Bu Astuti sembari menghibur mereka.
Semuanya pun tersenyum pendam, Namun, hanya Abduh yang menjawabnya dengan tawa atas usaha Bu Astuti itu menghibur mereka.
" Biarlah Abduh yang akan mencari, Bu ". Jelas Abduh mulai bergegas.
" Kamu baik sekali Abduh, tapi tidak apa. Ibu yang meninggalkannya dan ibu juga yang harus mengambilnya kembali. Abduh shalat dulu sana, Khumair juga belum kan ? ". Ucap Bu Astuti mengalihkan.
Ibu Astuti pun bergegas kembali menuju kebunnya, Ia pergi seorang diri, hatinya   memanjatkan do'a dan merendahkan jiwanya. " Biarlah aku yang lebih di bicarakan orang, itu lebih baik dari pada salah seorang dari keluargaku mengaduh kepadaku karena hal itu. Berilah sedikit keagunganmu untuk membuktikan kegundahan hatiku saat ini ". Ia tidak ingin mereka lebih tahu tentang semua ini dengan bisa merasakannya, hanya itulah yang bisa ia ucap dan panjatkan untuk menyemangati keterpurukan hatinya.
Kebun Bu Astuti terletak tidak jauh dari rumahnya. Mereka menyebutnya tanah Seberang, karena hanya melewati sebuah sungai desa, daerah itu disebut seberang. Tanah sebrang merupakan hamparan lapang kecil yang berada dikaki gunung karang mesjid, yang sangat cocok untuk pertanian sayur karena perairannya dekat dengan sungai, karena itulah  mereka memanggil kebun mereka dengan sebutan kebun seberang. Disanalah tempat mereka kini membuka lahan baru untuk bertanam. Mereka hampir selesai menggarapnya. Tinggal sedikit menggarit dan membeli bibit tanaman sayur yang mereka butuhkan, dengan tidak lama lahan itu akan segera lebih bermanfaat kembali.
Bu Astuti pun tiba di kebun sebrangnya itu, disana terlihat sepi dan gelap. Karena berada dikaki bukit yang masih rindang dengan pepohonan kebun sebelahnya dan tidak ada rumah penduduk, Bu Astuti pun sedikit berlekas dengan tetesan air hujan yang mulai membasahi kebun barunya itu. Setelah menemukan apa yang Ia cari, Ia pun kembali pergi.
Namun, Ia menemukan suatu yang tidak pernah dipikirkannya, itu hal yang sangat tidak lazim. Ia melihat sebuah batu yang bisa bergerak dan berpindah tempat seperti mereka yang hidup. Ia merasa aneh, Ia pun terus memangdanginya dengan ucapan- ucapan takbir dan tahmidnya dalam penyaksian mata kepalanya itu. Ia penasaran dengan batu putih pekat yang berukuran sebesar pintu rumahnya itu tidak kunjung berhenti berpindah-pindah tempat. Seakan Ia menunggu Bu Astuti untuk menghampirinya.
Saat itu entah apa yang terjadi, Bu Astuti seakan terkena kemat, Ia menghampiri batu besar itu. Hingga ia menyentuh batu yang terlihat lembut itu. Sekejap suasana pun menggelap, tidak ada lagi yang bisa Ia lihat selain rasa lelah yang sangat dan kegelapan. Ia tidak bisa berkata dan tidak sanggup lagi berdiri. Ia pun pinsan. Seketika Bu Astuti tergeletak di samping batu yang tadi Ia sentuh itu.
Hari pun beranjak sore, ciak burung dan beberapa ayam tetangga mulai berbenah memasuki kandang mereka. Namun Bu Astuti belum pulang juga. Seberanjaknya Ia tadi dari rumah, tidak sedemikian yang mereka pikirkan terhadapnya dengan saat ini. Mereka khawatir, Abduh dan Pak Turo pun menyusulnya.
" Astagfirullah,.. ". Ucap Abduh kaget setelah Ia dan ayahnya menemukan Bu Astuti tergeletak dipinggiran kebun mereka.
Dengan kesungguhan rasa khawatir, mereka pun lekas membawa Bu Astuti pulang dengan gendongan suaminya. Seperti yang telah diceritakan, dalam keadaan seperti itupun  para tetangganya hanya bisa melihat mereka membawa Bu Astuti tanpa rasa pedulinya, tanpa bantuan mereka, Pak Turo dan Abduh pun sampai kembali di rumahnya. Hati Pak Turo mulai merasa kesal sekali dengan perlakuan para tetangganya itu, dari hal yang tidak begitu rumit mereka bisa acuh yang sangat luar biasa sekali terhadap keluarganya.
" Astagfirullah,.." Ucap Khumair mengkaget.
Segera Khumair menyiapkan air hangat dan mengusapkannya ke kening Bu Astuti. Ia tetap tidak sadarkan diri. Kini Ia tergeletak di kamarnya tidak berdaya, tubuhnya yang mengujur dan matanya yang terus menutup semuanya menggeger tidak bisa lakukan apa lagi. Pak Turo pun bergeming, Ia shalat dua rakaat dan berdo'a, Ia dihadapkan dengan segelas air. Seperti dahulu yang Ia sering lakukan untuk para pasiennya. Ia pun mengusap wajah Bu Astuti itu dengan air tadi. Namun, Bu Astuti tetap tidak bergerak meski dengan syariat Pak Turo tersebut.
Tiba hari pun memalam, tidak lama malam pun membenih dengan tetesan air embun yang tersirat cahaya matahari, pagi pun tiba. Sudah dua kali matahari terbenam namun Bu Astuti tetap belum sadarkan diri. Juga dua hari sudah Bu Astuti dalam keadaan seperti itu. Mereka hanya bisa bertawakal dengan semua itu, karena tanpa sedikit pun bantuan ataupun jengukkan para saudara ataupun tetangganya sama sekali.
Dengan tangisan Budi yang tak berhenti, Pak Turo mengiba, segala yang Ia bisa telah Ia coba. Ia sakit hati dengan semua ini. Keluarganya kini  dalam kesusahan, namun mereka tetap tidak peduli padahal dalam keadaan seperti itu Ia dan keluarganya sangat mengharapkan bantuan dari tangan mereka sebagai tetangga terdekatnya.
Sebelumnya Bu Astuti tidak terlihat  sakit sama sekali, Ia baik-baik saja. Mungkin hanya karena kelelahan dan pikiran yang terus membebaninya tentang masyarakat yang mentakzir keluarganya dengan persoalan Asri dahulu. Kini mereka hanya bisa berdo'a untuk keselamatan Bu Astuti yang tengah seperti itu.
" Itulah adzab dari Allah atas perbuatannya beberapa waktu lalu ". Jelas seorang tetangganya ketika bercerita kepada tetangganya yang lain setelah mengetahui keadaan Bu Astuti.
Abduh dan Khumair yang kemarin berniat untuk menginap beberapa hari saja dan melepaskan rindu kepada keluarganya, kini mereka menjadi lain. Mereka tersibukan dengan keadaan Bu Astuti saat ini. Kios dan pekerjaannya pun Ia tinggalkan demi menjaga dan mengurus ibunya itu. Ladang yang baru dibuka pun terbengkalai tidak mereka garap kembali. Sungguh kehancuran melanda keluarga mereka. Pak Turo selalu percaya bahwa semua ini adalah ujian untuk keluarganya. Ia selalu menegarkan keluarga mereka untuk tetap bertabah dengan semua ini dan terus berdo'a bersama demi keselamatan sosok Bu Astuti mereka.
Selama dalam kurun itu, Pak Turo jarang terlihat meski oleh keluarganya sendiri sekalipun. Ia tidak beraktifitas seperti biasanya. Ia mengurung dirinya di ruangannya untuk hanya beribadah dan meminta petunjuk kepada Allah " Karena apakah semua ini ? " tujuannya hanya itu, agar Ia mampu mengetahui dan bisa berusaha untuk mengobati istrinya itu. Percuma Ia bisa menyembuhkan orang lain jika itu tidak berlaku bagi keluarganya.

***

" Astagfirullah,..". Bangunnya dalam mimpi.
Sempat tadi Ia berdzikir hingga Ia tertidur, Ia bermimpi tentang istrinya yang memintanya untuk dijemputkan pulang, Ia menangis. Dalam mimpinya tergambarkan Ia tidak merasa betah tinggal disana karena paksa seseorang untuk tinggal di rumahnya mengajari kaumnya belajar mengaji.
Bu Astuti diperintahkan untuk menjadi seorang guru di rumah tersebut. Seseorang itu merasa senang jika Bu Astuti dapat memenuhi semua keinginan seseorang dalam mimpi itu. Karena dibalik itu, seseorang yang ada dalam mimpi Pak Turo itu juga ingin mempersunting istrinya. Jelas Pak Turo tidak mengizinkan Istrinya lakukan itu. Dengan kesedihan istrinya dalam mimpi itu Pak Turo pun terbangun.
Di hari ketiga, Bu Astuti belum sadarkan juga. Abduh dan Khumair pun sudah tiga hari juga meninggalkan pekerjaan dan rumah mereka. Dengan itu Pak Andi pun berniat untuk menyusul mereka di desa Situ Berkah. Setelah mengetahui bahwa keluarga sahabatnya itu tengah dilanda musibah yang tidak tahu karena apa. Ia pun meminta Pak Turo untuk bercerita dari sebelum semua ini berawal.
" Mungkin ini ulah perbuatan jin, Pak. Bangsa merekalah yang tengah mengganggu jiwanya. Disini lahirnya mengoma namun ruhnya bisa dimana saja, ataupun di negeri mereka dan terhaizab untuknya pergi kembali kesini. Pak, ini harus segera kita berobati ". Jelas Pak Andi menyimpulkan cerita Pak Turo tersebut.
     Dengan penjelasan Pak Andi Ia mulai menyadar, Ia mulai bisa mengartikan arti mimpi itu. Ternyata mimpi itu adalah pentunjuk baginya akan gambaran karena apakah istrinya itu, karena Ia yakin istrinya tidak mengalami sakit apa-apa dan Itu pasti ada penyebab lain.
Dengan dasar itu, kini mereka semua melakukan shalat dua rakaat bersama dan berdo'a setelahnya.
" Ya Allah, jika semua ini terlampau benar, terlalu meyakinkan akan keagunganmu bagi kami. Sungguh tiada kerajaan yang lebih agung selain kerajaanmu. kembalikan Ia kepada kami, berilah sedikit keagunganmu kepada kami untuk menyelamatkannya ". Selip ucap Pak Turo dalam do'a bersamanya.
Seling beberapa saat, yang diharapkan pun tiba, saat matahari mulai terbenam Bu Astuti mulai menjentikan jarinya satu persatu dengan perlahan. Ia siuman, namun Ia masih memejamkan matanya. Semuanya nampak bahagia, segera pun Pak Turo memburu untuk merangkulnya dan membisikan ucapan di telinganya.
" Ibu.. Bangun, kami semua menanti ibu. Lihatlah, Pak Andi juga datang kemari. Ucapkan, Bu... Allahu Akbar..
Allahu Akbar...".
Kerap Pak Turo bisikan puji itu di telinganya, perlahan mulut Bu Astuti pun mulai bergetar-getar, seperti Ia ingin mengucapkannya juga namun Ia tidak bisa. Seiring puji itu kerap Pak Turo ucapkan berkali-kali, mereka yang yang hanya melihatinya juga mengikuti untuk menyemangatinya.
" Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. ". Ucap mereka serentak.
Bu Astuti pun bisa mengikuti ucapan mereka. Ia mengucapkan kalimat puji itu, perlahan pun matanya terbuka. Seketika Ia menangis. Ia merangkul dan memeluk suaminya yang ada disampingnya itu erat.
" Bapak, terimakasih. Ibu tidak mau pergi kesana lagi, Ibu ingin bersama kalian ". Ucap Bu Astuti dalam tangisnya.
Semuanya nampak jelas, semua itu adalah qobul Allah dari do'a mereka yang merendah hati. Perlahan Bu Astuti pun melihat kearah sekitarnya. Ia seakan merasa senang sekali, dilihatnya Abduh, Khumair, Budi juga Pak Andi yang tengah menunggunya kembali, dengan raungan hamdalah mereka pun serentak menggembira menjawab kegembiraan Bu Astuti yang telah kembali dari komanya.
Setelah salat magrib bersama, ketenangan jiwa Bu Astuti pun mulai kembali. Dalam riungan mereka kini Ia menceritakan apa yang di alaminya dalam koma beberapa hari tersebut.
" Ibu melihat cabai yang sangat besar sekali, tomat, bawang dan semua alat membuat sambal yang berukuran lebih dari biasanya yang ada di dunia ini. Ibu juga melihat istana yang begitu megah dan rombongan- rombongan  yang akan mengaji di istana tersebut. Ibu diperintahkan untuk membuat sambal bagi mereka yang hendak makan sebelum mengaji. Setelah selesai, namun ibu tidak turut makan bersama  mereka ". Jelas Bu Astuti dalam potongan ceritanya.
" Ibu ingat Budi, dalam pikiran ibu Ia pasti lapar sekali setelah pulang sekolah di rumah, karena Budi biasa menunggu masakan ibu sambil shalat dzuhur. Ibu ingin sekali melihat Budi ikut merasakan sambal buatan ibu dari cabai yang sangat besar itu dan ibu pun membawanya sebagian dalam  bungkusan daun pisang ". Jelas Bu Astuti menambahkan.
Dalam sela ceritanya, Ia pun mengusik tangannya untuk mengeluarkan sesuatu dari kantung baju sebelah kanannya. Astagfirullah.., Allah maha besar, bungkusan itu benar-benar ada. Percis seperti yang tadi Ia ceritakan, Ia membungkusnya dalam bungkusan daun pisang dan kemudian menyerahkannya kepada Budi.
Secara lahiriah, kejadian itu tidak mungkin bisa terjadi, Ia membawanya dari alam mimpi dan nyata dalam dunia ini. Bungkusan itu benar nyata. Mereka yang melihat kejadian itu menggeger, dengan logikanya tidak mungkin Bu Astuti  membawa dan memasukan Bungkusan itu kedalam kantung bajunya sedangkan Ia tidak pernah kemana dan melakukan sesuatu.
" Ayo, Budi. Buka sambal itu, makanlah, ibu sengaja membawanya untuk Budi makan ". Jelas Bu Astuti menambahkan ceritanya.
Mereka yang tengah bergelut dengan penasaran pun membukanya. Astagfirullah Aladzim.. Itu bukan sambal, bungkusan itu berisi tanah dan batu-batu kecil. Bu Astuti pun yang melihat itu ikut terkejut. Ia tahu itu tidak nyata, tapi itu benar-benar Ia bawa.
" Apakah arti semua ini, Pak ! ". Jelas Bu Astuti yang jiwanya kembali melemah. Ia menangis redup.
" Disana Ibu hanya membawa itu setelah membuatnya, karena Ibu tidak turut makan bersama mereka. Dengan ibu yang seperti itu, mereka merasa kagum dan ibu di perintahkan untuk mengajar mengaji kepada mereka. Mereka memaksa, namun ibu tidak mau. Ia juga berniat akan menikahi ibu jika ibu berani mengajari kaum mereka mengaji. Ibu tidak mau. Ibu lebih betah tinggal disini meski keadaan kita yang selalu digunjingkan masyarakat kita ". Jelas Bu Astuti meneruskan ceritanya.
Kadang semua itu benar dan selaras dengan kenyataan dunia, dalam keadaan keluarga yang tengah terambing karena fitnah masyarakat, mungkin mereka yang berada di alam sana bisa menggoyahkan hati Bu Astuti, Namun tidak, Ia memilih yang benar-benar apa yang harus Ia jalani bersama keluarganya. Itulah Bu Astuti sosok ustadzah yang hanya mengharapkan ukhrawi Allah semata.
Kejadian itu juga ternyata mampu  menguatkan hati dan keimanan Pak Turo, mimpi itu benar-benar seperti yang dialami Bu Astuti diluar sana, semua itu adalah petunjuk. Tidak sembarang orang yang diberikan petunjuk oleh Allah lewat mimpinya. Hanya para Ambiya dan orang-orang yang telah diridhainyalah yang bisa. Puji syukur mereka ucapkan atas pertolongan Allah kepada keluarga mereka. Mereka yakin semua ini adalah rencananya dalam garis kehidupan keluarga mereka. Meski sering keluhan dan iba bagi keluarga mereka, namun mereka jugalah yang meyakini akan kebesarannya.
Setelah dengan cerita dan kurun itu selesai, Pak Andi pun turut pamit, Bu Ani istrinya pasti telah menunggunya di rumah. Ia juga mengizinkan kepada Abduh dan Khumair untuk tinggal beberapa hari lagi bersama mereka di desa Situ Berkah dengan maksud untuk mengurusi Bu Astuti untuk sementara.
Keesokan harinya, mereka kembali seperti biasa melakukan aktifitas yang telah beberapa hari mereka tinggal. Tanah seberang itu kembali mereka garap membentuk garitan-garitan lahan, kini bibit-bibit sayur mereka telah beli dengan sisa uang dari penjualan kayu itu. Lahan pun hampir sempurna dengan cepatnya, kini keluarga mereka berpencaharian tetap, yaitu sebagai petani sayur di desa mereka. dengan keadaan yang seperti itu, keluarga mereka berhubugan langsung dengan pasar. Masyarakat sama sekali tidak mempedulikannya. Karena itulah mereka kesusahan untuk usaha dalam proses distribusi hasil panen mereka.
Bebepara minggu kemudian, semua lahan dan usaha mereka hampir sempurna. Abduh yang bekerja di kios kini Ia juga sebagai penjual sayuran. Mereka tidak bingung lagi dengan masalah distribusi  hasil panen mereka. Karena kios mempunyai mobil Lose Box pengangkut barang-barang dagangan milik Pak Andi dan dengan izinnya Abduh bisa langsung mengangkut dan memasarkannya.

***

Pagi itu adalah pagi yang cerah, suasana burung masih terdengar asri di halaman rumah mereka. Budi yang kini tidur sendiri, ia juga tidak pernah lagi bangun kesiangan untuk shalat subuh dan bersiap sebelum waktunya. Pak Turo tengah bersiap mengangkut hasil panennya, karena setiap lima hari sekali Ia memanen sayuran dan Abduh sengaja datang dari kiosnya untuk mengangkut hasil panen tersebut untuk dipasarkan. Setelah Bu Astuti beres memasak sarapan, Budi pun berangkat sekolah. Semua itulah yang selalu keluarga Bu Astuti kerjakan setiap pagi.
" Bu, Bapak berangkat ke ladang dulu. Ibu jaga rumah saja, Abduh pasti sudah menunggu di tepi jalan. Do'akan bu, mudah-mudahan panen kita kali ini banyak dan segar-segar ". Ucap Pak Turo pamit.
Ia pun bergegas menuju ladang seberang. Bu Astuti yang biasa ikut memanen kini Ia tinggal di rumah untuk berbenah sebelum menyusulnya karena hari masih terlalu pagi. Hingga Bu Astuti selesai mengurus rumah, Ia mulai merasa capek. Ia beristirahat sejenak diruang tamu.
Sekejap tiba-tiba Bu Astuti menjerit histeris, tubuhnya bergetar-getar setelah terhempas dan berlari beberapa jarak dari tadi Ia duduk. Tanpa sepengetahuannya seekor ular kecil jatuh tepat diatas pundaknya, Ia pun segera berlari kembali menghindar setelah menyingkirkan ular itu dari pundak kanannya, ular itu terpojok di lantai atas sapuan keras tangan Bu Astuti tadi.  Namun, Ular itu tidak bergerak sama sekali, ular itu seperti mati, tetapi Ia hidup. Perlahan Bu Astuti memperhatikan ular itu lebih dekat. Anehnya, ular itu mempunyai empat kaki kecil seperti cicak. Tapi ia ular.
Ia mulai mengheran, beberapa waktu belakangan ini Ia sering menemui hal-hal yang berbaur ghaib dalam hidupnya. Dengan penuh kesadarannya, Ia pun memasukan ular itu kedalam botol  minuman yang ada di dapurnya. Berharap Ia akan meyakini bahwa ular itu adalah benar-benar ular, karena jika makhluk itu bukan ular yang sesungguhnya, Ia pasti bisa melarikan diri dari kurungannya itu.
--
Tabi'at takzir keluarga itu tidak kunjung memadam, dengan sikap keluarga Pak Turo yang terus berdiam dan tidak bermasyarakat seperti dulu membuat keadaan seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Mungkin perlahan semuanya akan terlupakan, dengan kepenuh madanian kehidupan keluarganya sekarang mereka hampir tidak pernah mendapati hubungan ataupun interaksi dari masyarakat sekitarnya sama sekali.
Mungkin Ia masih berbenak saat merasa sakit hati dengan perlakuan para tetangganya ketika Bu Astuti mengoma beberapa waktu lalu. Tiada seorang pun yang datang menjenguk selain Pak Andi yang itupun masih keluarganya. Namun, Ia sadar. Prinsipnya seseorang akan menemuinya jika mereka tengah membutuhkannya. Ia terlintas meratapi jasanya terdahulu, Ia selalu berkorban demi apa yang menjadi kebutuhan masyarakatnya, bahkan Ia rela menjadi ambing kesibukan yang mampu mengalahkan kepentingan keluarganya.
Bukan seperti itu yang Ia maksud, sebagai panutan mereka Ia harus menjaga kewibawaannya, sesekapan semuanya pasti akan seperti sedia kala yang penuh kedamaian dan keharmonisan. Memang semua ini berubah saat mereka mengetahui keberadaan Asri dahulu yang tinggal dirumahnya, namun hanya karena itu, Ia hanya ingin berbuat baik selama Ia bisa. Meski hal seperti ini tidak pernah Ia pikirkan.
Beberapa tanaman sayur mulai Ia cabut bersama Abduh yang sudah menunggu dari tadi subuh. Abduh tidak ke rumahnya terlebih dahulu, mungkin Ia berpikiran Ia hanya akan menjadi mala dosa bila berpapasan dengan beberapa tetangganya yang selalu mengatainya, jadi Ia lebih baik memutuskan menunggu di tanah seberang untuk menghindari semua itu.
Di rumah, Bu Astuti tengah bersiap menyusul suami dan anak pertamanya itu di ladang, Ia akan menceritakan apa yang terjadi tadi pada dirinya.
" Pak, tadi ibu dijatuhi ular ketika selesai berbenah, Ia mengerikan sekali, ular itu mempunyai kaki seperti cecak. Ibu pun mengurungnya di botol minuman. Ibu ketakutan.. ". Jelas Bu Astuti memanja suaminya.
Mendengar cerita itu mereka pun  mempercepat menyelesaikan pengangkutan hasil panennya. Pak Turo pun pulang setelah Abduh berangkat kembali ke pasar karena ingin menyaksikan ular tersebut. Benar, Ular itu nampak tidak seperti ular yang lainnya. Selain berkaki Ia juga mampu melihat dengan menengokan lehernya seperti manusia pada umumya. Ular itu juga tidak dilepaskannya, mereka ingin tahu. Hingga beberapa hari Mereka mengurungnya dan tiba-tiba Bu Astuti kembali jatuh sakit.
Mereka kembali tertimpa kejadian yang tidak sewajarnya. Bu Astuti yang tengah sakit, namun saat Ia di bawa berobat, Dokter mengatakan Ia tidak mengidap penyakit apa pun.
" Bu Astuti dalam keadaan sehat pak, mungkin Ia hanya kelelahan saja. Saya berikan resep obatnya dan bapak bisa membelinya di Apotek sebrang jalan itu. Jangan lupa diminum  vitaminnya dan beristirahat yang cukup, dengan itu Bu Astuti akan segar kembali ". Jelas Dokter.
Yang dikatakan Dokter itu sangat berlawanan sekali. Sejatinya Bu Astuti hanya bisa terbaring kembali di tempat tidurnya. Pak Turo ingat sesuatu.
" Jangan- jangan semua ini ada hubungannya dengan ular yang Ia kurung dalam botol minuman itu ". Ucapnya dalam hati.
Pak Turo pun melepaskannya, ular itu nampak lelah sekali karena sudah dua hari di penjarakan disana. Ular itu tidak balik melawan, seakan ular itu mendendam dan ingin berusaha lekas meninggalkannya. Ia hanya memperhatikan seksama raut Pak Turo saat Ia melepaskannya. Seperti Ia akan datang kembali untuk membalas perbuatan keluarga Pak Turo terhadapnya.
Dengan itu pun Bu Astuti tidak kunjung menyembuh, Ia masih terbaring lemah di tempatnya. Ia hanya bisa merasakan panas di punggung bawah sebelah kanannya dengan rasa mual yang sangat. Ia mulai sering menagis dengan apa yang di rasakannya.
Pak Turo semakin tidak mengerti dengan semua ini, dengan do'a dan harapannya Ia pun bergegas menuju desa Karang Indah tempat Pak Andi tinggal karena Ia juga mempunyai teman seprofesinya disana. Ia meminta bantuan, mudah-mudahan dengan bantuannya Ia bisa lebih memahami apa yang tengah mengganggu istrinya itu.
" Assalamu Alaikum, Ustadz Amung ! ". Sapa Pak Turo yang kebetulan seseorang yang dicarinya itu tengah berada di halaman  rumahnya.
Ustadz Amung juga adalah seorang sahabat Pak Turo ketika masih di pesantren. Nama lengkapnya Asnan Amrin, Ia berasal dari kota Medan yang setelah lepas dari pesantren Ia menikah dengan seorang  anak perempuan dari Pak Lurah di desa Karang Indah Kecamatan karang Indah Bogor. Ia tidak mau dipanggil Kyai, Ia sangat rendah hati dan karena itulah Ia memilih untuk lebih suka dipanggil Ustadz.
" Waalaikum Salam, Pak Turo. Sudah lama kita tidak berjumpa ". Jawabnya ramah.
Rautnya pancarkan kekuatan batin dan keteguhan iman saat dari pertama Ia menjawab salamnya, logat bahasa Medannya kian merubah seiring waktu kehidupan di daerahnya. kehidupnya sudah sangat meyakinkan. Kenapa tidak, menjadi menantu seorang Lurah yang sudah hampir setengah hidupnya dipercayai masyarakatnya untuk meminpin mereka,  Ustadz Amung juga ikut terbawa harum  dengan memiliki kenalan dan pengalaman serta pengamalan yang lebih luas.
" Saya sedang dalam masalah, Tadz. Istri saya sedang sakit, namun karena itu disebabkan oleh hal lain. Sepengetahuan saya sakitnya itu ada campur tangan makhluk Jin ". Jelas Pak Turo mengutarakan maksudnya.
"  Subhanallah, mungkin benar, Pak. Coba bapak ceritakan bagaimana kejadian sebelumnya sehingga istri bapak mengalami hal itu ". Ucap Ustadz Amung meminta.
Pak Turo pun bercerita sepenuhnya, beberapa saat matanya memejam.  Ustadz itu lalu bertasbih.
" Semua yang bapak ceritakan itu benar, tepat di ladang baru bapak itu adalah sebuah kerajaan besar negeri Jin Islam, disanalah halaman dan pintu gerbang Istana mereka dan bangunan istananya tepat di gunung dibelakang ladang bapak itu. Sebenarnya hampir seluruh daerah desa Situ Berkah itu juga semua termasuk daerah kekuasaan nya. Sejatinya tidak heran jika sering terjadi hal-hal seperti itu, namun dengan kesabaran hati Bu Astuti dan ushwahnya, Seorang Panglima dari kerajaan itu jatuh hati kepada istri bapak dan ingin mempersuntingnya ". Jelas Ustadz yang semua perkataannya itu merangkum keterangan yang ada di mimpi Pak Turo beberapa waktu lalu.
" Dalam alam Jin juga memiliki kehidupan seperti kita. Mempunyai kepeminpinan, berkeluarga, beribadah dan selayaknya seperti kehidupan kita disini. Mungkin saat itu Bu Astuti tengah terbebani sebuah pikiran, hatinya sangat terguncang. Saat itu juga panglima mereka itu menaruh kesempatan untuk mengajak Bu Astuti meninggalkan dunianya. Namun Ia menolak, Panglima itu pun murka dan ingin memaksa Bu Astuti untuk ikut dengannya ".
" Kejadian yang kemarin Ia alami itu masih bersangkut paut dengan komanya beberapa waktu lalu. Panglima itu masih mengharapkannya, dan itu adalah bentuk pemaksaannya terhadap Bu Astuti. Namun Alhamdulillahnya, berkat keteguhan dan keimanan Bu Astuti Panglima itu kembali gagal meski memaksanya ". Jelas Ustadz Amung bercerita.
" Apa yang harus kita lakukan sekarang ? ". Tanya Pak Turo menambahkan.
" Sekarang kita berdo'a saja dan insyaallah saya akan memberanikan diri untuk berbicara langsung dengan atasan panglima itu serta memintanya untuk mencabutkan  niatnya. Mudah-mudahan panglima itu bisa mengerti apa yang kita maksudkan ". Jelas Ustadz.
Pak Turo pun mulai merasa lega, mudah-mudahan semua usaha dan do'anya itu akan qobul berhasil. Tidak lama pun Ia berpamit pulang. Ia percaya sahabat lamanya itu.
Dahulu sering mereka menyebutnya 'Telu sededelan' karena mereka bertiga dengan Pak Andi adalah sahabat dari keluarga yang sangat tidak punya namun memiliki tujuan mulia yang sama saat di pesantren dahulu.
--
Bu Astuti tidak kunjung membaik meski setitik, keadaannya merata tanpa perbedaan meski dengan beberapa obat dan syari'at. Seperti yang selalu Ia rasakan, pingangnya terasa panas dan sakit serta mual yang sangat. Itu adalah hal terberat yang dideritanya karena sangat tidak searah sekali dengan beberapa dokter yang mengatakan Ia tidak mengidap penyakit apa-apa.
" Saya telah berbicara dengan panglima Jin itu, Pak. Saya pun mengutarakan maksud kita. Dia menjelaskan, kali ini bukan karena Ia ingin mempersunting istri bapak atau juga ingin memintanya mengajar mengaji di kerajaannya. Karena kali ini juga bukan panglima itu yang membuat Istri bapak menderita ". Jelas Ustadz Amung ketika mendatangi kediaman Pak Turo.
" Ya Allah, ada apa lagi Tadz, lantas kenapa Istri saya sakit seperti itu ? ". Ucap Pak Turo bertanya.
" Saat ular itu menemui Istri bapak, Ia memenjarakannya, Ia merasa tersiksa dan  raja dari panglima itu pun mengetahui. Karena saat itu panglima itu sedang berusaha menjirim kedunia kita dalam proses pematangan ilmunya. Raja panglima itu pun menghukum Istri bapak karena telah menggagalkan pematangan ilmunya tersebut ". Ustadz Amung menjelaskan lagi.
Permasalahan ternyata semakin merumit, yang tidak pernah disangka kini menyata dan membuat beban atas sesuatu kesalahan yang sedikitpun tidak menyadarinya. Namun jelas jika dipikirkan kembali, kesalahan memang mengarah kepada keluarga Pak Turo. namun atas dasar apakah kali ini mereka menghubungkannya dengan keluarga Pak Turo tersebut.
Abduh dan Khumair istrinya pun datang kembali menjenguk ibunya itu di desa. Mereka berkumpul kembali setelah PakTuro memintanya, Do'a selalu mereka panjatkan untuk kepulihan sosok Bu Astuti yang selalu mereka harapkan.
" Bapak bantu saya berdo'a, mungkin ini akan berat. Insyaallah, saya akan terus berusaha ". Jelas Ustad Amung kembali meminta.
---
Beriak air kini terdengar jelas mengisi keheningan rumah Pak Turo, selalu yang mereka idamkan dahulu ingin mempunyai kamar mandi di rumahnya, kini telah terlaksana. Berkat pemborongan kebun kayu Jenjingnya kini ia bisa mewujudkan keinginannya itu. Ia juga merenovasi rumahnya meski tidak nampak jelas perubahannya.
Kini mereka bisa mandi dan berwudhu di dapur sebelah pojoknya. Meski hanya berhijabkan dinding bilik seadanya, namun nampak sempurna sekali dengan air selang yang terus mengalir dari kaki gunung belakang rumah mereka.
Hingga malam hampir tiba, mereka dengan lekasnya telah bersiap untuk shalat magrib berjama'ah. Kedatangan Pak Ustadz Amung mewarnai do'a mereka. Ditambah dengan keberadaan Abduh dan istrinya, Khumair. Lengkap sudah kefadilan yang akan mereka panjatkan bersama.
Setelah shalat, mereka bersiap. Khumair nampak bingung. Maklum, dahulu Ia hanyalah gadis rumahan yang selalu berdiam. Namun dengan tujuan mereka ia mampu mengerti apa yang harus ia panjatkan seraya bersama mereka.
Pejaman matanya mengkhusukan do'a. bersama suaminya yang setia, kini dengan aba-aba Ustad Amung mereka bersiap.
" Ya Allah... !! ". Teriak Pak Turo sentak.
" Silahkan, Pak Abduh. Bicaralah, kini anda berkesempatan mengatakan apa yang anda inginkan untuk Bu Astuti ". Jelas Ustadz Amung memulai.
Abduh tidak mengerti, Ia membingung. Hanya kepalan tangan yang erat kepada istrinya ia mulai mendalih.
" Bismilah, Assalamu Alaikum yaa ahlu ghaib ". Ucap Abduh memulai.
Dengan muqadimah salam itupun percakapan dimulai. Selalu yang Ia herankan kepada ayahnya, Pak Turo. Berkali-kali Ia tanya dan Pak Turo itu seakan menjawab seperti yang bukan sosok ayahnya yang Ia kenal. Ia sangat pandai sekali dalam dalihnya. Tanpa Abduh sadari dan dengan kesempatan yang diberikan Ustadz Amung, Abduhpun mengutarakan maksudnya.
" Maaf, Pak. Kami hanya ingin Bu Astuti, ibu saya itu baik-baik saja. Kita mempunyai urusan masing-masing, jadi hendaklah kita saling mengasihani ". Jelas Abduh ramah.
" Bapak !!, umurku sudah beribu tahun lamanya, masih kamu panggil bapak. Panggil aku Embah !! ". Jelas Pak Abduh memarah.
Pejaman mata Abduh menandakan ia mengerti bahwa sosok Pak Turo itu bukanlah ayahnya. Ia lah ketua panglima itu. Kini dengan tegas Ia menjirim kedalam raga Pak Turo. Dengan bantuan Ustad Amung semuanya kini dimuka. Ini adalah sebuah kesempatanya untuk menolong ibu yang dikasihaninya itu.
" Baiklah, Mbah. Peran Bu Astuti sangat berarti sekali bagi kehidupan kami juga warga disini. Peran ia sangat menghidupi sekali nilai keagamaan di Desa Situ Damai. Saya mohon dengan sangat, kembalikan lah ia kepada jiwanya. Cabut apa yang kini ia tengah rasakan ". Jelas Abduh meminta.
" Saya bisa saja mencabut apa yag menjadi hukumannya. Namun inilah do'anya. Semua ini adalah qobul dari hati yang tersiksa dan Allah mendengarnya ". Jelas Mbah itu.
" Do'a ?. Apa yang pernah ia do'akan hingga menyiksa dirinya ? ". Tanya Abduh kembali.
" Sebelum Ia bergegas ke kebunya waktu itu, saat ia tengah terbebani apa yang menimpa keluarga kalian. Ia berdo'a dengan kejuhudannya, " Lebih baik saya terkena dalih mereka daripada keluarga saya. Demi nyawaku yang ada ditangannya, berikanlah sedikit keagunganmu kepadaku untuk membuktikan semua kegundahanku ini ". Dengan panjatan itu pintu biru langit (gerbang mustazab do'a) terbuka dan kami pun dapat mendengar. Bersama itu, dengan perantara kamilah Allah mengabulkan do'anya. Kamipun percaya, ini semua adalah garis yang telah direncanakan Allah. Kami hanya menjalankannya ". Jelas Mbah itu menerangkan.
" Ini adalah daerah kami, kian beribu tahun lamanya kini menjadi kekuasaan mutlak dan apa yang kami miliki disini. Jika kalian menginginkan kerajaan kami jelas kami tidak akan berdiam untuk terus mempertahankannya. Mungkin Bu Astuti kami bisa lepaskan, berdo'alah. Kami akan berusaha ". Jelas Mbah itu kembali menambahkan.
Kini semua jalan terbuka jelas, hidup memang selalu berhubungan dengan teori sebab akibat. Meski demikian, hukum alam dan masyarakatlah yang mampu merubah keadaan. Meski kenyataannya demikian, persoalan seakan semakin tidak akan menemukan jalan keluar. Jika kita kembalikan kepada qada Allah. Benar, Ketawakalan adalah kuncinya. Selebihnya kita hanya mampu bersabar dan berusaha, adapun hasil Allahlah yang telah merencanakannya.
Setelah percakapan itu selesai, maksud kini telah tersampaikan. Meski Pak Turo sempat tertatih dan tidak mengetahui apa yang terjadi beberapa saat tadi. Ia sadar, keluargalah yang paling berharga baginya. Karena ia percaya, semua ini adalah rencana Allah. Ia hanya bersyariat dan berusaha mewujudkan arti ketawakalannya itu.
--
Lahan kebun seberang kian terbentang menghijau, meski hujan terus membanjiri namun telah sekian lama pelangi kini tidak menampakan lagi berkas cahayanya. Dengan pondasi-pondasi rumah yang baru saja mereka renovasi dan kamar mandi yang beberapa waktu selesai dibuat, kini mereka akan merelakan semuanya.
Bu Astuti kian membaik dari sebelumnya. Setelah percakapan Abduh dengan ketua panglima Jin tersebut. Mereka berhasil. Allah kembali mendengar apa yang mereka panjatkan beberapa hari lalu.
Sebelum kesehatan Bu Astuti benar-benar pulih, terlebih Pak Turo dan semua anggota keluarganya memutuskan untuk berpindah rumah. Kini papan pengumuman sudah mereka pasang,
" Dijual cepat, rumah berukuran 14x5 meter ". Tulisan papan itu telah terpapang jelas di pohon jambu halaman rumah mereka meski mereka masih berdiam didalamnya, mereka menunggu.
Takzir bagi keluarga mereka masih belum mereda, memang mereka sudah lama tidak menggunjingkan permasalahan Asri lagi. Namun, untuk mengembalikan keadaan seperti sebelumnya merupakan hal yang masih sangat terjal dan garam bagi mereka untuk kembali. Mungkin dengan berpindah rumah semuanya akan kembali seperti sedia kala. Selain itu, mungkin gangguan dari bangsa Jin juga akan terhindarkan. Dengan dasar harapan hidup yang lebih baik itulah mereka memapangkan papan pengumuman penjualan rumah mereka tersebut.
" Assalamu alaikum, Benarkah ini rumah Pak Turo ? ". Tanya seorang yang sepertinya dari tadi ia mengitari.
" Waalaikum salam, Benar. Dengan saya sendiri. Ada perlu apa, Pak ?. Tanya balik Pak Turo.
" Jika tidak keberatan, saya bermaksud untuk mencabut papan pemberitahuan itu di pohon jambu depan ". Jawabnya singkat.
" Lho.. kok. Memangnya kenapa, Pak ? ".
" Saya bermaksud membeli rumah bapak ini ". Jelasnya singkat.
Puji syukur Pak Turo curahkan saat itu juga. Ia tersenyum menghapus bingung yang tadi ia sempat rasakan. Seseorang itupun dipersilahkan masuk.
" Nama saya Jinny, Zinny Sulainy. Sejak kemarin sore kami memutuskan untuk pindah rumah. Istri saya tidak merasa nyaman lagi tinggal di kota besar, dengan kemauannya itu kami memutuskan untuk tinggal di pedesaan. Hingga saya membaca papan tersebut didepan. Sangat kebetulan sekali, letak desa ini juga tidak terlalu jauh dari jalan raya. Akhirnya saya bertanya kepada bapak untuk maksud saya itu ". Ucapnya mengutarakan.
" Baiklah pak Jinny. Beri kami waktu tenggang beberapa hari untuk bersiap-siap meninggalkan rumah ini, karena kami juga sama seperti pak Zinny ini. Kami juga masih mencari rumah. Maksudnya jika rumah ini terjual kami juga akan membeli rumah yang lain lagi ". Jelas Pak Turo.
" Baiklah Pak Turo. Nanti minggu depan saya temui kembali. Mungkin bapak dalam tenggang itu bisa menemukan rumah seperti yang bapak harapkan ". Ucap lelaki bernama pak Jinny itu.
" Terimakasih, Pak. ".
" Saya hanya bisa menawarkan harga Rp. 50. 000 000, Pak. Hanya sejumlah itu yang saya bisa bayarkan untuk rumah ini ". Jelasnya lagi menerangkan.
" Tentu, Pak. Bagi kami itu sudah cukup sekali, melihat keadaannya, kami juga mengerti. Dengan angka itu kami sangat bersyukur sekali bapak bisa tawarkan ". Jelas Pak Turo tersenyum.
Terlintas lelaki itu sangat percaya sekali dengan Pak Turo, hanya dengan kesepakatan itu dan sebagai modal Pak Turo mencari rumah baru minggu ini, lelaki itu membayar uang muka setengahnya dari jumlah yang ia tawarkan. Hingga lelaki percayaan itu pamit, tanpa membuang waktu dan kepercayaan, Pak Turo pun bergegas bersama Budi berangkat mencari apa yang keluarga mereka cari itu.
" Mbud, tidak apa kan hari minggu ini Mbud temanin bapak mencari rumah ? ". Tanya Pak Turo dalam perjalanannya.
" Mbud seneng, Pak. Mbud bisa bantu Bapak ".
" Mbud, apakah di rumah baru kita nanti, Mbud ingin punya kamar sendiri ? ". Tanya Pak Turo.
" Tidak.. ".
" Apakah di rumah baru nanti Mbud ingin punya kamar mandi ? ". Tanya Pak Turo kembali.
" Tidak.. ".
Perlahan Pak Turo melihatnya dari belakang, ia melambatkan langkahnya berharap Budi berjalan didepan.
" Ada apa bapak ? ". Tanya Budi yang tersadar dengan tingkah ayahnya itu.
" Tidak, Mbud. Apakah Mbud ingin dibelikan sesuatu jika uang untuk membeli rumah baru nanti memiliki sisa ? ". Pak Turo membalik tanya.
" Tidak.. ".
" Apakah Mbud setuju kita pindah rumah ? " Tanya Pak Turo kembali.
" Tidak.. ".
" Kenapa ? ". Tanya Pak Turo ingin tahu.
" Mbud senang tinggal di Desa Situ Berkah, meski keadaan kita seperti itu, tidak terkaru. Mbud rasa itulah jalan untuk kita tapaki, kita hanya perlu bersabar, dan bukan untuk meninggalkan jalan itu ". Jelas Budi menerangkan.
Tidak disangka anak berumur 13 tahun itu  menjawab sedemikian hebatnya. Jelas salah dari apa yang Pak Turo duga barusan dengan apa yang akan Budi katakan. Pak Turo pun mempercepat kembali jalannya dan menyejajarkan dengan Budi.
" Mbud, Apakah Mbud rindu dengan ibu yang dahulu ? ". Tanya Pak turo bertanya lagi.
" Iya.. ".
" Apakah Mbud suka menangis akan hal itu ? ". Tanya Pak Turo memojokan.
" Iya..".
" Apakah dengan kita pindah rumah, ibu akan kembali seperti dulu ? ". Tanya Pak Turo benar-benar bertanya.
" Tidak.. ".
" Kok Mbud berkata demikian, kenapa ? ". Tanya Pak Turo lagi.
" Tidak, Pak. Mbud hanya merasakan akan seperti itu ". Jelas Budi singkat.
" Alhamdulillah, mungkin papan itu yang kita maksudkan, Mbud ". Ucap Pak Turo melihat papan pengumuman yang dicarinya itu.
Rumah itu terlihat sangat sederhana sekali, memang berbangunan permanen, mungkin karena kurang sedikit perawatan rumah itu terlihat kumuh. Mereka menemukanya di tetangga desa mereka, yaitu Desa Babakan Trigis. Memang tidak jauh, sengaja mereka mencarinya agar masih bisa merawat dan berkebun sayur di tanah sebrang mereka di Situ Berkah.
" Assalamu Alaikum ". Ucap mereka ketika berada didepan rumah yang memiliki papan pengumuman seperti di rumah mereka, mereka tersenyum.
" Tidak apa bagaimana pun juga, asalkan nyaman untuk beribadah. Aku akan membelinya ". Guman Pak Turo dalam hati sembari mengusap-usap dinding rumah yang kumuh itu.
" Maaf, Pak. Saya penjaga rumah ini, ada perlu apa dengan Pak Jinny ". Tanya penjaga rumah itu tiba-tiba dari sebelah  samping rumah.
" Saya tertarik dengan rumah ini, Pak. Jadi saya bermaksud untuk sedikit berunding mengenai papan yang terpapang didepan ". Jelas Pak Turo.
" Pemilik rumah ini sedang di luar kota, Pak. Dan kebetulan besok juga ia pulang. Jadi besok siang bapak kesini lagi saja. Barangkali Pak Jinny telah sampai disini ". Jelas penjaga itu memberi saran dan kemudian pergi.
Penjelasan dingin penjaga rumah itu membuat Pak Turo dan Budi berdiam. Mereka berpikir tentang Pak Jinny. Apakah benar majikan penjaga rumah ini adalah Pak Jinny yang tadi siang datang kerumah kami ?.
" Tidak mungkin, mungkin hanya kebetulan namanya saja yang sama. Pak Jinny, orang yang terlihat kaya itu tidak mungkin tinggal di tempat kumuh seperti ini. Bukankah Ia tinggal di kota besar ?  ". Jelas Pak Turo dalam hati.
Mereka pun memutuskan untuk pulang, Pak Turo terlampau mengatakan maksudnya itu kepada penjaga rumah tadi. Jadi, mau tidak mau Ia harus menunggu waktu itu besok dan keputusannya. Pantang bagi Pak Turo untuk meminang dua kesempatan dalam satu hal sekaligus.
Keesokan harinya ia kembali bergegas menuju Desa Babakan Trigis. Meski waktu belum terlampau siang Ia telah meninggalkan rumahnya sebelum waktu yang ditentukan. Maklum, Pak Turo, Ia lebih baik awal waktu dari pada ia tidak menentu dipikirannya dan lebih baik tidak sama sekali dari pada ia terlambat. Meski kali ini ia pergi sendiri, Budi pergi sekolah. Namun, tidak mengubah semangatnya untuk mendapatkan rumah baru dalam waktu seminggu ini. Karena yang dipikirkannya Pak Jinny akan datang seminggu dari saat ia menerima uang muka atas rumahnya yang dijual itu kemarin siang.
Hingga ia tiba di rumah yang di tujunya, ia tidak mengucapkan salam terlebih dahulu. Terlebih Ia melihat-lihat rumah yang baru ditawarnya itu hari kemarin.
" Ini masih bagus, masih kokoh. Hanya perawatan dan modelnya saja ". Pak Turo kembali berguman.
" Maaf, Pak. Ada perlu apa ? ". Tanya pemilik rumah itu tiba-tiba.
" Pak Jinny ? ". Ucap Pak Turo setelah membalikan badan.
Sungguh sulit dipercaya, Pak Jinny itu adalah Pak Jinny yang akan membeli rumahnya. Mereka tertawa dan Pak Turo dipersilahkan masuk.
" Saya mendengar dari penjaga rumah ini tadi pagi saat saya kembali tiba, bahwa rumah ini ada yang menawarkan. Jika itu bapak mungkin saya tidak akan kemana ". Jelas Pak Jinny membuka percakapan.
" Bukankah bapak orang dari kota besar ? ". Tanya Pak Turo tidak mengerti.
Pak Jinny terdiam sejenak, seakan ia mencari kata. Ia menuai segelas kopi kedalam mulutnya perlahan yang barusan penjaga rumah itu sediakan sebelumnya.
" Jadi begini, Pak. Saya sering sekali pergi bolak-balik ke kota besar menemui istri saya disana. Karena saya orang sini ". Jelasnya singkat.
" Kalau boleh saya tahu, apa pekerjaan bapak ? ". Tanya Pak Turo kembali.
" Saya.. Seorang mandor di perusahaan Tekstil ". Jelasnya lagi.
" Kalau begitu bapak kenal dengan anak-anak saya Si Andi, Rais dan Salim ? ". Tanya Pak Turo lagi memojokan.
Pertanyaan Pak Turo itu ternyata terlalu berlebihan. Hingga Pak Jinny tersenyum sejenak dan mengubah raut tegangnya itu. Ia seakan terhindar dari tanya yang merumitkannya.
" Perusahaan Tekstil di Jakarta sangat banyak sekali, Pak. Meski seperusahaan saya, bawahan saya juga banyak yang saya  tidak tahu ". Jelasnya seakan menyelamatkan diri dari pertanyaan- pertanyaan tadi.
" Oya, Pak. Bagaimana rumah ini, Bapak suka ? ". Tanyanya memotong.
" Saya setuju, Pak. Saya tertarik. Bapak menawarkan berapa untuk rumah ini ? ". Jelas Pak Turo kembali bertanya.
" Kita sama-sama membutuhkan rumah, Pak. Bagaimana kalau kita tukar saja rumah kita ? ". Tanya Pak Jinny menerangkan maksudnya.
Sentak dipikiran Pak Turo tidak mengerti. " Mengapa Ia baik sekali ?. Ada apa sebenarnya ? ". Meski sangat menguntungkan baginya, namun ia tidak mudah tergoda dengan apa yang menjadi kelebihan itu untuknya.
" Bapak baik sekali, mengapa bapak lakukan itu ?. Rumah bapak jauh lebih sempurna dari pada rumah saya, selain itu juga uang muka dari setengah harga rumah saya juga masih saya pegang ?. Sebenarnya apa yang bapak cari ? ". Tanya Pak Turo mengungkapkan.
" Bapak, saya tahu kita bahkan baru saja kenal. Jujur, saya tidak ada maksud lain dibalik semua ini selain mencari ketenangan saya bersama istri saya. Saya kira itu sama dengan niat keluarga bapak. Untuk hidup dan keharmonisan keluarga. Tidak ada salahnya kan saya membantu bapak dan bapak membantu saya ?. Biarlah uang itu saya hadiahkan untuk keluarga bapak. sebagai imbalan dari pertukaran rumah kita ". Jelasnya melebarkan.
Sebenarnya Pak Turo masih ingin bertanya lagi, tapi hatinya beraut, " Biarlah... Ia hanya berniat baik, tidak ada salahnya saya menerima semua itu. Mungkin saya hanya berpikiran terlalu tegang ". Jelas hatinya memaparkan.
" Bagaimana jika perpindahan rumah kita, kita percepat ? ". Ucap Pak Jinny melanjutkan.
" Saya setuju saja, Pak. Kebetulan istri saya juga kian membaik dan sepertinya kami siap untuk itu ". Jelas Pak Turo.
" Besok Selasa kita bersiap dan Rabu pagi kita berpindah. Bagaimana ? ". Ucapnya mengajukan lagi.
" Rabu bukan hari yang buruk untuk berpindah rumah. Baiklah, saya setuju. Rabu pagi sekali kami selesai bersiap dan berangkat ". Jelas Pak Turo.
" Baiklah.. ".
Hingga Pak Turo kembali pamit, ia masih berguman, " Pak Jinny baik sekali, meski ini bukan perkara kecil. Hari ini seperti telah di rencanakan, semuanya sangat mudah sekali ". Begitulah hati Pak Turo berkata-kata. Ia takut terjadi sesuatu lagi dengan keluarganya. Karena yang ia tahu, jika ada sesuatu yang ia terima kelak ada yang akan direlakanya. " Mungkin itu hanya pikiranku saja ". Hatinya mengucap untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.
Tiba kembali ia di rumahnya, seperti apa yang dipikirkannya, Ia memburu untuk berwudhu. Ia shalat dua rakaat dan bersujud syukur sejenak.
" Terimakasih yaa Allah, kau berikan kami kemudahan dalam duniamu. Kau qobulkan do'a kami untuk ibadatmu. Berkahilah keluarga kami dengan cayaha keimananmu ". Ucap hati kecilnya dalam sujud tersebut.
" Bu, Rumah baru kita sudah ditemukan dan Rabu pagi kita bisa meninggalkan rumah ini ". Jelas Pak Turo kepada istrinya yang ternyata dari tadi memandanginya shalat.
" Iya, Pak.. ".
" Apakah ibu setuju ? ". Tanya Pak Turo lagi.
" Iya, Pak ".
Pak Turo teringat jawaban Budi kemarin, setiap ia bertanya kepadanya, ia menjawab dengan sesingkat- singkatnya dan menerangkan dengan sepasti-pastinya.
" Apakah ibu berani meninggalkan ini semua ? ". Tanya Pak Turo lagi penasaran.
" Tidak, Pak ".
" Kenapa ? ". Tanya Pak Turo ingin tahu.
" Sejak menikah dengan bapak 26 tahun  yang lalu, kita telah tinggal disini. Banyak kenangan yang mengukir akan keindahan rumah kita. Meski tidak semuanya membahagiakan, tapi itulah yang akan selalu ibu ingat saat kita mengisi rumah baru kita nanti ". Jelasnya sembari mendekat.
" Maafkan bapak, Bu. Bapak hanya ingin kita lebih baik ". Jelas Pak Turo singkat.
Bu Astuti mengangguk mengerti, Ia pun mencium tangan Pak Turo, Ia menangis.
" Kita ukir kembali kebahagiaan itu, Bu ". Jelas Pak Turo menutup.
--
Pagi sekali mobil Lose Box Abduh milik kios Pak Andi itu tiba didepan rumahnya di desa Situ Damai, mobil itu tidak mengangkut hasil panen sayur ayahnya kali ini. Ia turut bersama istrinya juga, Khumair. Dengan itu, pertukaran rumah akan selesai  lebih cepat.
Sebagian dari tetangga mereka yang melihat persiapan pertukaran rumah keluarga Pak Turo itu mulai mengiba, hati mereka merasa resah akan kebiasaan baik dalam hati mereka, mereka ingin membantu. Namun, sepertinya mereka gengsi lakukan itu. Hati mereka seakan menangis seperti akan ditinggalkan. Kini telah usai sudah harapan untuk kembalinya pengajian ibu-ibu saat pagi jum'at tiba, pengajian anak-anak mereka saat sore mulai menggelap dan pengajian bapak-bapak saat malam minggu hingga beranjak subuh. Mereka akan kehilangan keluarga yang benar-benar berjasa bagi mereka.
Tidak lama keluarga Pak Turo bersiap, nampaknya tamu mereka sudah tiba lebih awal. Pak Jinny dan penjaga rumahnya itu telah tiba didepan rumah Pak Turo dengan mobil yang sama, mereka terlihat riang sekali. Hingga keduanya siap, mereka berjabat.
" Sungguh takdir tidak bisa diduga, dalam kebahagiaan ini. Saya ucapkan terimakasih yang sangat besar sekali kepada bapak atas semua ini ". Jelas Pak Turo dalam jabat nya.
" Sungguh sebuah kemuliaan bagi kami dapat membantu keluarga bapak. Dalam kebutuhan kita, dengan ini semua akan terbayar rata dan saling diuntungkan ". Jelas balik Pak Jinny.
" Terimakasih, Pak ".
" Sama-sama, Pak Turo ".
Semuanya terlihat kharib, bagaikan sepasang adik-kakak yang bertukar tempat tidur di rumah ibunya. Setelah semuanya benar-benar siap keluarga Pak Turo pun berangkat.
" Hey lihatlah, kini mereka pergi untuk selamanya. Untuk apakah mereka meninggalkan rumahnya ?, akankah mereka meninggalkan kita ?, saya sungguh sangat merasa bersalah sekali dengan perlakuan saya terhadap keluarganya tempo lalu. Akankah mereka kembali dan memaafkan kita ? ". Ucap seorang tetangga kepada tetangganya yang lain.
Sejenak kabar itu menyerbak desa, mereka telah mengetahui bahwa Pak Turo dan keluarganya telah mengkosongkan rumahnya tadi pagi. Mungkin karena perlakuan tetangga dan masyarakatnya yang dengki tentang masalah Asri, wanita hamil yang tinggal di rumahnya dahulu. Hingga mereka meninggalkan kampung halamannya.
Mereka menyesali, mereka sadar bahwa mereka, keluarga dan anak-anak mereka  membutuhkannya, inilah akhir dari sosok tokoh dan keluarga  yang pernah mereka kagumi dan hormati, terbuang sia-sia dengan kesalahan yang tidak jelas salah ataukah benarnya. Hanya kedengkian dan amarah sesaat mereka yang membuat kini keluarganya meninggalkan mereka.
Begitulah kegelisahan masyarakat Desa Situ Berkah tanpa keluarga Pak Turo. Mereka menyepi, sunyi seperti cahaya penerang hati mereka telah hilang meninggalkan mereka.
 --
" Tidakkah ibu merasa dingin sekali ? ". Tanya Pak Turo di malam pertama mengisi rumah baru mereka.
" Benar, Pak. Disini dingin sekali, sebentar ibu periksa dulu. Mungkin ada jendela yang lupa Abduh kunci tadi sore ". Jelas Bu Astuti terbangun.
Rumah Pak Jinny kini sudah mereka tempati dari tadi siang. Pertukaran rumah itu berjalan lancar seperti do'a Pak Abduh dalam sujudnya. Dengan bantuan Abduh dan isrtinya mereka cepat menyelesaikan benah rumah mereka tersebut.
Rumah itu terbangun sangat mewah sekali jika kita kembali ketahun 45an. Meski hanya potongannya yang menandakan rumah ini dibangun pada tahun sekian. Namun, fasilitas dan kekokohan rumah itu tidah diragukan.
Bagaimana tidak, Rumah berukuran 20 x 15 meter itu memiliki 5 kamar tidur dan  2 kamar mandi. serta dapur dan ruang tamu yang terlihat mewah meski sedikit berbau klasik Belanda, sangat jauh jika dibandingkan dengan rumahnya di Desa Situ Berkah yang serba sederhana itu.
" Mungkin hanya akan turun hujan, Pak ". Jelas Bu Astuti yang baru selesai memeriksa jendela.

***

Dibagian lain kehidupan, juga terdapat sebuah keluarga yang tengah bersuka cita. Ialah keluarga Asri. Baru dua hari kemarin sore keluarganya, Pak Beni dan Bu Ani  berhasil menemukan tunangan Asri itu di rumah orangtuanya yang kebetulan ia  pulang, mereka pun ditikahkan malam ini juga.
" Sungguh Bapak merasa malu sekali dengan keluarga Pak Turo dan isrtinya. Karena berkat keluarga dan ketawakalannya Asri bisa kembali seperti ini ". Jelas Pak Beni tiba-tiba.
" Apakah Ibu berpikiran seperti apa yang bapak pikirkan ? ". Jelas Pak Beni bertanya lagi menghapus kebengongan Bu Ani.
" Benar, Pak. Bagaimanapun Asri tetap anak kita ". Ucapnya tidak berarah.
" Baiklah, Bu. Besok juga kita kunjungi rumah Pak Turo dan keluarganya di Situ Damai. Alakadarnya kita bersilaturahim dalam ucapan terimakasih kita ". Ucap Pak Beni mengungkapkan.
" Iya, Pak. Ibu setuju ". Sambut Bu Ani tiba-tiba semangat.
Pernikahan Asri tidak dirayakan seperti pernikahan anak-anak yang lainya. Alakadarnya izab dan qobul serta mas kawin dan saksi yang menyaksikannya saja. Bukan mereka tidak menginginkan pernikahan anak sulung mereka, Asri itu dirayakan. Namun, begitulah yang seharusnya, untuk lebih menjauhi fitnah dan salah faham masyarakat terhadap keluarga dan martabatnya.
Tiba esok pun terbias. Mereka bersiap, Pak Beni dan Bu Ani serta Asri dan suami barunya pun berkumpul. Dengan mobil mewahnya mereka mendatangi rumah Pak Turo dan keluarganya di Desa Situ Damai.
" Assalamu Alaikum ". Ucap Pak Beni didepan rumah yang sepertinya kosong itu.
" Maaf Pak, Bu. Pak Turo dan keluarganya dua hari ini telah berpindah rumah. Jadi, rumahnya ini dikosongkan ". Ucap seorang bapak yang seperti tetangga keluarga Pak Turo.
" Pindah... ?, kemana, Pak ? ". Tanya Asri kaget.
" Kami dan warga disini juga tidak mengetahui kemana mereka berpindah rumah. Mereka tidak melapor. Mungkin mereka kecewa atas takzir masyarakat  terhadap keluarganya yang telah memelihara wanita penzinah beberapa tempo lalu di rumahnya ". Jelas seorang bapak itu bercerita.
" Terus bagaimana keluarganya ? ". Tanya Bu Ani kaget.
" Keluarganya baik-baik saja. Hanya saja.. ". Ucap seorang bapak itu terpotong.
" Kenapa, Pak ? ". Tanya Bu Ani mulai menangis membayangkan.
" Mungkin karena takzir masyarakat itu atau apa, mungkin juga Bu Astuti berpikir keras dan hatinya terluka. Dengan itu akhirnya Bu Astuti sering sakit-sakitan. Hingga mereka memutuskan untuk berpindah rumah dan mungkin juga untuk menjauhi segala cemooh masyarakat sini ". Jelas bapak itu bercerita.
" Astagfirullah.... ! ". Ucap Bu Ani histeris dan ia terjatuh pinsan.
Mungkin dengan cerita seorang bapak tadi, jiwa Bu Ani tersentak akan penderitaan keluarga Bu Astuti selepas Asri kembali pulang kepadanya. Ini tidak pernah terbayangkan olehnya, ternyata akan sedalam itu penderitaan karena ulah anaknya itu.
Dengan kejadian itu Bu Ani dibawa ke Mushola disamping rumah yang kosong tersebut. Warga yang mengetahui kejadian itu pun berbondong untuk melihatnya. Warga semua berkumpul, namun sebagian yang masih mengenal sosok Asri tetap menggunjingkannya.
" Bu, Bangun. Malu, Bu. Kini semua warga mengetahui keadaan ibu ". Bisik Pak Beni di telinganya.
Setengah jam sudah Bu Ani dalam keadaan tidak sadarkan diri. Warga yang melihatnya malah hilir berdatangan terus mengisi Mushola untuk melihatnya kembali sadar.
Hingga Jari Bu Ani perlahan tercentik. Ia pun siuman dan tidak lama menagis di pangkuan suaminya.
" Tidakkah kalian lihat.. ! ". Teriak Bu Ani yang baru tersadar beberapa detik lalu.
" Betapa teganya kalian.. ". Ucapnya melanjutkan.
Warga yang baru saja kehilangan Keluarga Pak Turo beberapa hari lalu itu mulai mendengarkan.
" Keluarga Pak Turo yang selama ini menyelamatkan kehidupan kalian, mengajar anak-anak kalian mengaji, cermin uswahnya kepada kalian. Ingatlah, mereka adalah keluarga yang baik. Mereka adalah keluarga yang berilmu, tidak seharusnya kalian bersikap tidak pantas kepada keluarganya. Bukan keluarga mereka yang harus kalian hinakan, tapi keluarga kami. Keluarga mereka hanya menolong, menolong anak kami.. ". Ucap Bu Ani berteriak menjelaskan.
Sekejap warga pun berbisik riung, hati mereka berkata " benar " dengan apa yang diucapkan Bu Ani barusan. Mereka ada yang menitihkan air mata ketika mengenang perlakuannya terhadap keluarga Pak Turo beberapa tempo lalu, mereka menyesal.
" Sekarang kita cari rumah keluarga Pak Turo yang baru. Minta maaf kepada keluarganya, mereka tidak bersalah sedikit pun. Harusnya kalian malu kepada diri sendiri atas perlakuan kalian ". Ucap Bu Ani menerangkan lagi.
Mereka setuju, hingga warga berunding sejenak untuk memutuskan. Terlihat anggukan kepala yang serentak mereka pun membulatkan niat.
" Baiklah para warga yang saya hormati, atas perlakuan kita yang sangat salah dan tidak pantas, saya selaku ketua RT Situ Damai mewakili kalian semuanya. Marilah kita mencari rumah keluarga Pak Turo tersebut, hingga ketemu !! ". Jelas Pak RT yang mengedepankan diri tersebut.
Dengan serentak warga pun mempersiapkan diri. Mereka membagi tugas dengan beberapa kelompok, mereka berpencar. Mereka mulai bertanya-tanya dimana rumah Pak Turo dan keluarganya kepada warga dan ketua RT di seputar desa yang mereka anggap dekat.
" Saya tidak tahu, Pak. Tidak ada yang berpindah ataupun tinggal baru di desa kami ". Jelas ketua RT di beberapa daerah.
Hingga mereka mendatangi desa-desa yang terjauh dan selalu ketua RT desa tersebut berkata demikian.
" Dimana lagi kami harus mencari ? ". Keluh seorang ketua pemuda merasa lelah.
" Baiklah, hari ini pencarian cukup sampai disini, besok pagi kita berkumpul kembali di balai kelurahan dan meneruskan pencarian kita ". Tutup ketua RT itu memberi komando.
Haripun mengelap, jejak-jejak keberadaan keluarga Pak Turo masih belum terlihat juga meski sedikit pun. Dengan penjelasan Bu Ani dan keluarganya tadi pagi, warga akhirnya tersadar. Mereka benar-benar membutuhkan keluarga berilmu itu sebagai tuntunan dan uswah bagi hidup mereka.
Hingga pagi pun kembali. Warga penuh semangat mengisi balai kelurahan Desa Situ Damai, kini Pak Beni dan menantunya pun juga turut ikut, mereka sangat optimis. Bahwa keluarga Pak Turo tidak akan berpindah jauh karena mereka harus mengurusi kebun sayur mereka sebagai pencaharian keluarga mereka.
" Bagaimana jika kita menunggu Pak Turo di kebun sayurnya itu. Toh.. setiap hari mereka pasti menyirami kebunnya itu kan ? ". Usul ketua pemuda itu cemerlang.
Dengan persetujuan ketua RT pun akhirnya usul itu di terima. Pagi sekali para warga telah menunggu di pinggiran kebun sayur milik Pak Turo. Mereka mengenakan baju yang berbeda-beda. Sehingga dari kejauhan, kebun sayur Pak Turo itu terlihat seperti  bongkahan lahan yang penuh dengan bunga cantik yang berwarna warni.
Dipucuk ulam pun tiba, Pak Turo pun yang berpakaian bolong-bolong itupun tiba di kebun sebrangnya, mereka tersenyum. Akhirnya mereka menemukan siapa yang mereka cari dari hari kemarin itu.
" Assalamu Alaikum ". Ucap Pak Turo  dengan raut penuh kesederhanaannya itu.
Satu per satu mereka memeluknya, mereka menangis dan meminta maaf atas perlakuannya dahulu.
" Maafkan saya, Pak. Maafkan saya, saya khilaf. Saya malu sama bapak. Kami disini semua memohon agar bapak bisa memaafkan perlakuan kami kepada bapak dan keluarga bapak tentang kejadian beberapa tempo lalu ". Ucap pak RT itu tundukan kepala.
" Sudahlah, tanpa kalian meminta maaf pun saya dan keluarga saya sudah memaafkannya, kami bisa melupakannya. Tidak apa-apa, kita semua tidak luput dari   kesalahan kan ". Ucap Pak Turo mencoba tegar dari tangis warganya.
Akhirnya semua itu tercipta, jawaban- jawaban hasil pemikiran Pak Turo benar. Dengan kebenaran semuanya akan kembali, meski melalui proses, Allah tidak akan lupa dengan hambanya yang berbuat baik.
" Dengan rasa permintaan maaf kami, bolehkah kami mengetahui dimana rumah bapak yang baru ? ". Jelas ketua pemuda itu memohon.
" Tentu, Abduh dan isrtinya pun masih ada di rumah. Bahkan Budi pun tidak sekolah dua hari ini. Mereka masih merawati Bu Astuti yang belum kunjung pulih sepenuhnya ". Sanggup Pak Turo memberi izin.
" Kalau boleh saya tahu, dimanakah rumah bapak ? ". Tanya ketua pemuda itu lagi.
" Tidak jauh dari sini kok, di tetangga desa kita,  di Desa Babakan Trigis ". Ucap Pak Turo dengan nada rendah.
" Ayo kita berangkat, Pak ? ". Ucap Ketua RT itu tidak sabar ingin berkunjung.
Mereka pun bergegas, laksana gulungan bah yang mengamuk, mereka saling mendahului langkah untuk bisa berdamping dengan Pak Turo. Tidak lama kemudian, mereka sampai diperbatasan desa, didepan sebuah bukit kecil Pak Turo berhenti melangkah, ia membalikan tubuhnya kepada mereka yang mengikutinya dari belakang.
" Nah, kita sudah sampai di rumah baru saya ". Ucap Pak Turo sambil tangannya menunjuk ke arah bukit tesebut.
" Astagfirullah Al-adzim.. ". Tidak ada warga yang tidak mengatakan demikian. Mereka tercengang.
" Ayo, silahkan masuk. pasti tidak akan semuanya bisa masuk ya.. ". Uca Pak Turo tamah.
" Bapak yang benar saja, yang benar ini rumah bapak yang baru ?. Terus dimana Istri bapak dan keluarga Abduh ? ". Tanya  Pak Beni yang masih beristigfar.
" Sebentar.. Bu, ini ada warga menjengk ibu ? ". Panggil Pak Turo kepada istrinya.
Dengan kejadian itu warga semakin tidak mengerti, apakah yang dimaksud Pak Turo bahwa bukit itu sebagai rumahnya. Namun, sungguh Allah maha besar, dari sebuah batu karang yang terguling, sosok Bu Astuti itu keluar, ia tersenyum. Kemudian dari sebelahnya juga muncul Abduh dan istrinya  serta Budi, mereka terlihat bahagia sekali karena dipikirannya semua warga Situ Damai menjenguknya.
" Bapak, yang benar saja. Ini cuma kaki gunung ? ". Tanya ketua pemuda itu sungguh tidak mengerti.
" Iya saya tahu, memang rumahnya masih bermodelkan jaman dulu. Tapi, masih bagus dan kokoh. Lihatlah, rumah ini saya dapat tukar dengan Pak Jinny dengan rumah saya yang dahulu ". Jelas Pak Turo yang kemudian Ia dan keluarganya berkumpul.
" Tapi, semenjak bapak pindah kesini rumah bapak di Situ Berkah menjadi kosong ? ". Jelas ketua pemuda itu semakin tidak mengeti.
" Kosong ? ".
" Benar, Pak. Rumah Bapak kosong ".
" Saya masih ingat, waktu itu masih sangat pagi. Bahkan tetangga saya juga melihat, Ketika Pak Jinny telah tiba di depan rumah saya, ia telah siap untuk penukaran rumah kami. Tidak lama, kami pun selesai dan tinggal disini ". Jelas Pak Turo lagi.
" Tidak mungkin ? ".
" Sebentar..., saya bahkan dihadiahkan uang sebesar Rp. 25 Juta oleh Pak Jinny  itu, sebagai imbalan atas penukaran rumah kami tersebut ". Jelas Pak Turo sembari mengambil bungkusan uang yang kemudian memperlihatkannya.
" Allahu Akbar !, ini bukan uang, Pak. ". Jelas ketua RT itu geger.
" Apa arti sumua ini, Bu ". Ucap Pak Turo tidak mengerti setelah kembali melihat uang itu.
Dalam sela gemuruh itu, mereka yang tengah tersibuk melihat bungkusan uang Pak Turo. Ternyata benar-benar bukan uang, itu adalah daun pohon ceringin yang telah dikeringkan. Hingga tanpa disengaja Pak Turo melihat ke arah rumah barunya itu.
" Ibu, Abduh, Khumair, Budi. Lihatlah rumah kita.. ". Ucap Pak Turo dengan nada rendah.
Serentak mata mereka ditunjukan oleh kenyataan yang sebenarnya. Rumah mereka yang baru dua hari mereka huni itu adalah bukit, kaki gunung Karang Mesjid bagian selatan, serta batu karang yang terguling sebagai pintu rumah mereka, mereka dikemat dalam beberapa hari.
" Allah maha besar, engkau tunjukan kembali keagunganmu kepada keluarga kami, kami mengerti. Pertebalah keimanan kami terhadap semua ini ". Ucap Bu Astuti dengan kejadian itu.
" Pak Jinny ? ". Ucap Pak Turo kaget.
" Benar, Pak. Ini adalah karunia bagi keluarga bapak. Mereka yang tidak memahami hal ini sungguh tidak akan mengerti ". Ucap Pak Jinny yang tiba-tiba keluar dari kerumunan warga.
" Apa maksud Bapak ? ".
" Saat Abduh bercakap dengan peminpin kami beberapa pekan lalu, saya diutus olehnya untuk menyelamatkan keluarga bapak. Do'a keluarga bapak Allah qobul. Dengan berbagai caranya, semua ini adalah kehendaknya dengan lirisan kami. Sekarang kembalilah ke Situ Damai, mereka yang berada disini dan juga yang berdiam sangat membutuhkan bapak.  Satu lagi, pemimpin kami menitipkan salam kepada keluarga bapak ". Jelas Pak Jinny yang kemudian kembali kedalam kerumunan warga.
Sekuat tenaga Pak Turo mengejar Pak Jinny itu yang masuk dalam kerumunan warga, ia seperti orang yang buta. Ia memilah satu per satu warga yang sedang berkerumun, ia menangis. Namun, warga hanya melihatnya dengan penuh keheranan.
" Bapak tadi lihat kan Pak Jinny berada disini ? ". Tanya Pak Turo Kepada Pak Beni.
Ia menggelengkan kepalanya.
" Bapak lihat kan ? ". Tanyanya lagi kepada ketua RT mereka.
Ia juga menggelengkan kepalanya.
" Bapak sudahlah, ini semua tidak nyata. Rumah dan uang itu hanya tipu dayanya saja dalam menyelamatkan keluarga kita ". Buru Abduh menenangkan ayahnya.
" Tadi Abduh lihat kan Pak Jinny berbicara dengan bapak ? ". Tanyanya kepada Abduh.
Abduh mengangguk, ia beserta keluarganya lah yang mengakui kebenaran itu,
Jiwanya masih bergetar, mungkin ia tidak ketakutan, hanya saja jirim itu jelas sekali baginya dengan dihadapan warga yang tengah mengelilinginya. Ia pun menceritakan apa yang telah dialaminya barusan meski mereka tidak mengetahuinya. Mereka mengerti, dengan belas dan rasa hormat terhadap akan jasanya kelak. Akhirnya warga bergotong royong meminta dan membantu keluarga Pak Turo untuk pindah kembali ke kampung halamannya.
Sungguh kejadian yang sangat luar biasa, dunia ini selalu berdampingan dengan dunia yang ada dibaliknya. Meski terkadang kita tidak mampu mengetahuinya, namun alam bawah sadar kita tetap merasakannya. Tidak mungkin tidak, karena perasaan itu lebih mudah kita tangkap dari pada pengetahuan terhadap sesuatu.
Keimanan dan ketawakalan sangat penting dalam menyeimbangkan kedua dunia tersebut. Hukum dan do'alah yang dapat membedakan haq dan keharusannya, seperti nilai dan makna menapaki sebuah jalan dan kesempatan untuk memilih sebelumnya. Dia maha adil dan pengabul do'a, segala do'a yang terpanjatkan akan terqobul selama jiwanya masih tidak terhijab dosa.
Kerinduan dan kekhariban warga masyarakat kini terjalin kembali seperti sedia kala. Meski dengan qobul do'a dan jalan yang tidak pernah terduga, namun rencana Allahlah yang paling mengetahui akan keinginan kita.
Setelah semuanya kembali, Abduh memulai kehidupan bersama istrinya dengan membangun rumah disamping rumah kedua orang tuanya, karena dengan itu Bu Astuti tidak kesepian akan anak dan sentuhan seorang perempuan yang membantunya. Selain ia berjualan di kios, juga dengan ketekunan membantu ayahnya mengolah kebun sayurnya, kini ia bisa meneruskan studinya kejenjang yang lebih tinggi, S2 yang dulu hanya bisa ia citakan kini ia mampu perjuangkan. Selain itu, kini ia juga mewarisi posisi dan membantu ayahnya sebagai ketua pengajian saat malam minggu tiba.
Tidak lain hal dengan istrinya, Khumair juga mengantikan Bu Astuti sebagai pengajar mengaji anak-anak saat hari mulai gelap tiba, selain itu ia juga mendampingi Bu Astuti dalam pengajian ibu-ibu saat Jum'at pagi tiba.
Sementara itu, Pak Turo tetap dengan pekerjaannya, yakni sebagai Al-Ahlu Wal Hikmat di desa mereka dan sebagai petani sayur, ia tidak lupa akan kesederhanaannya dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara Budi yang kini sebentar lagi lulus Sekolah Dasar, ia akan di pesantrenkan di daerah Bogor, Jawa Barat seperti kakaknya dahulu sembari bersekolah Madrasah Tsanawiah disana.
Kehidupan memang sebuah jalan yang harus dilalui dan bukan dilangkahi. Seburuk-buruknya keadaan dalam suatu jalan, jika melangkah dengan ketawakalan dan Husnudzan kepada Allah, semuanya akan terbuka dengan kesungguhan usaha dan do'a yang telah panjatkan. Insyaallah..

Sekian...
Selasa,15 Februari 2011
Rabu, 25 Mei 2011